Sekitar sepekan yang lalu, telepon dari Bu Kaprodi HKI membuatku terdiam sejenak. Beliau menyampaikan sebuah permintaan yang bagiku bukan sekadar undangan biasa. Aku diminta menjadi salah satu perwakilan alumni Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) untuk mengikuti rangkaian Asesmen Akreditasi Prodi HKI UNUGIRI Bojonegoro.
Agak sedikit berpikir panjang, namun pada ahirnya aku menyatakan kesediaanku. Bagaimanapun, kampus ini bukanlah tempat yang asing bagiku. Di sinilah aku pernah menempuh perjalanan panjang menuntut ilmu sebagai mahasiswa S1. Banyak kenangan, perjuangan, dan doa yang pernah kutitipkan di setiap sudut kampus itu.
Hari Selasa, 2 Juni 2026, aku menghadiri briefing persiapan akreditasi di kampus tercinta. Saat memasuki Gedung Rektorat, hatiku seolah diajak kembali menelusuri lorong waktu. Langkah demi langkah yang dulu kulalui sebagai mahasiswa kini kulewati sebagai seorang alumni.
Sesampainya di lokasi, Bu Hana (Ibu Kaprodi HKI) menyambutku dengan ramah dan langsung mengantarkanku menuju ruang rapat. Di dalam ruangan itu ternyata telah hadir banyak alumni dari berbagai angkatan serta para stakeholder yang akan terlibat dalam proses asesmen.
Aku memperhatikan satu per satu wajah yang hadir. Ada alumni-alumni senior yang telah sukses meniti karier di berbagai bidang. Sebagian menjadi praktisi hukum, sebagian mengabdi di instansi pemerintahan, dan sebagian lagi menjadi tokoh yang berkontribusi di tengah masyarakat.
Di tengah briefing tersebut, tim panitia akreditasi menjelaskan berbagai hal yang perlu dipersiapkan. Salah satu tugas yang harus kulaksanakan adalah memberikan gambaran kepada asesor mengenai kualitas Prodi HKI, keunggulan-keunggulannya, serta manfaat nyata yang kurasakan selama menjadi mahasiswa hingga menjalani kehidupan profesional saat ini.
Mendengar penjelasan itu, pikiranku melayang pada masa-masa kuliah dahulu. Ternyata ilmu yang dulu kupelajari tidak hanya berhenti di ruang kelas. Ia menjadi bekal yang terus menuntunku dalam menjalankan tugas sebagai pegawai teknis di KUA. Saat itulah aku menyadari bahwa menjadi alumni bukan sekadar pernah belajar di sebuah kampus, tetapi juga menjadi bukti hidup atas keberhasilan pendidikan yang diberikan kampus tersebut.
Selesai briefing, aku pulang dengan membawa satu tugas penting: mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi pertemuan dengan tim asesor keesokan harinya.
Pagi hari Rabu 3 Juni 2026, aku berangkat lebih awal dari biasanya. Aku ingin tiba lebih cepat agar dapat beristirahat sejenak dan menghadapi proses wawancara dengan kondisi yang prima.
Setibanya di kampus, suasana mulai ramai. Aku langsung menuju Gedung Rektorat. Di sana aku disambut hangat oleh Pak Anam, dosen yang dahulu pernah menjadi pembimbing skripsiku. Rasanya seperti bertemu kembali dengan keluarga lama yang telah lama tak bersua.
Tak lama kemudian aku bertemu dengan para alumni yang sehari sebelumnya hadir dalam briefing. Ada Pak Mutakin, seorang penghulu di KUA Bangilan Tuban yang penuh pengalaman. Ada Mas Amim Thobari, Mas Fauzan, dan Mas Afan, para lawyer muda yang sukses mengembangkan kariernya. Aku juga bertemu dengan Bapak Anamnulloh dari Kementerian Agama Kabupaten Bojonegoro yang hadir mewakili stakeholder.
Kami berbincang santai, saling bertukar cerita dan pengalaman hidup. Ruangan itu terasa hangat oleh kenangan dan persaudaraan. Tidak ada sekat jabatan ataupun profesi. Yang ada hanyalah ikatan yang sama sebagai keluarga besar HKI UNUGIRI.
Tak lama kemudian seorang dosen memanggil kami menuju ruang asesor. Jantungku mulai berdegup lebih cepat. Meski bukan pertama kali berbicara di depan orang lain, tetap saja ada rasa gugup ketika harus mewakili almamater di hadapan tim penilai.
Ketika memasuki ruangan, asesor menyambut kami dengan ramah. Mereka kemudian mulai mengajukan pertanyaan satu demi satu.
Aku mendapat kesempatan menjelaskan bagaimana ilmu yang diperoleh dari HKI sangat membantu pekerjaanku di KUA. Pak Mutakin menjelaskan manfaat pendidikan HKI dalam tugasnya sebagai penghulu. Sementara Mas Fauzan dan Mas Revanda memaparkan bagaimana bekal akademik dari HKI menjadi fondasi penting dalam profesi mereka sebagai advokat.
Setiap jawaban yang kami sampaikan bukanlah hasil hafalan. Itu adalah pengalaman nyata yang kami jalani sehari-hari. Kami berbicara bukan hanya sebagai alumni, tetapi sebagai saksi hidup bahwa ilmu yang diperoleh dari kampus benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.
Setelah sesi wawancara dianggap cukup, kami dipersilakan keluar ruangan.
Saat kembali ke luar, suasana berubah menjadi penuh kehangatan. Kami berbincang dengan para dosen, mengenang masa-masa kuliah, tertawa bersama, dan saling mendoakan kesuksesan. Seakan-akan hari itu bukan sekadar kegiatan akreditasi, melainkan sebuah reuni yang mempertemukan kembali orang-orang yang pernah berjalan di jalan perjuangan yang sama.
Di tengah kebersamaan itu, aku merasakan sebuah kebanggaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tidak semua alumni mendapat kesempatan untuk kembali berkontribusi secara langsung bagi kampus yang telah membesarkannya.
Aku menyadari bahwa sekecil apa pun peran yang kami lakukan hari itu, semuanya adalah bentuk bakti kepada almamater. Sebab kampus bukan hanya tempat mencari ijazah, tetapi juga tempat menempa karakter, memperluas wawasan, dan membentuk masa depan.
Menjelang sore, aku berpamitan dan kembali menuju tempat tugasku. Namun ada sesuatu yang berbeda saat meninggalkan kampus hari itu. Aku pulang bukan hanya membawa kenangan, melainkan juga rasa syukur yang mendalam.
Syukur karena pernah menjadi bagian dari keluarga besar HKI UNUGIRI.
Syukur karena dipertemukan kembali dengan para guru dan sahabat seperjuangan.
Dan syukur karena masih diberi kesempatan untuk memberikan sesuatu bagi kampus tercinta.
Dalam hati aku berdoa:
"Ya Allah, jadikan ikhtiar kecil kami ini sebagai amal kebaikan. Berikan kemajuan bagi UNUGIRI Bojonegoro, khususnya Program Studi Hukum Keluarga Islam. Limpahkan keberkahan kepada seluruh dosen, mahasiswa, alumni, dan pengelolanya. Dan semoga Prodi HKI memperoleh hasil terbaik serta meraih Akreditasi UNGGUL."
Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah kampus bukan hanya milik civitas akademik yang ada di dalamnya, tetapi juga menjadi kebanggaan seluruh alumni yang pernah tumbuh dan belajar di sana.
Sebuah Pelajaran yang Tak Tertulis di Ruang Kuliah
Dalam perjalanan pulang menuju kantor, pikiranku terus mengulang kejadian demi kejadian yang baru saja kulalui. Jalan yang kulewati terasa berbeda dari biasanya. Bukan karena pemandangannya berubah, melainkan karena hatiku sedang dipenuhi rasa syukur dan haru.
Aku teringat masa-masa ketika masih menjadi mahasiswa. Dulu aku sering datang ke kampus dengan membawa banyak harapan. Kadang harus berjuang membagi waktu antara kuliah, pekerjaan, organisasi, dan berbagai tanggung jawab lainnya. Ada saat-saat lelah, ada masa-masa sulit menyelesaikan tugas, bahkan ada waktu ketika aku merasa kemampuan diriku begitu terbatas.
Namun hari ini, ketika duduk di hadapan asesor sebagai alumni, aku menyadari bahwa setiap perjuangan itu ternyata tidak pernah sia-sia.
Allah telah mempertemukanku kembali dengan kampus ini dalam posisi yang berbeda. Jika dahulu aku datang sebagai pencari ilmu, hari ini aku hadir sebagai saksi atas manfaat ilmu yang pernah kuterima.
Aku juga belajar bahwa kesuksesan seseorang tidak selalu diukur dari jabatan atau gelar yang disandangnya. Ketika bertemu para alumni senior yang kini telah berhasil di bidangnya masing-masing, aku melihat satu kesamaan di antara mereka: kerendahan hati.
Meski memiliki profesi yang berbeda-beda, kami tetap duduk bersama, bercengkrama, saling menghormati, dan mengenang masa-masa sebagai mahasiswa. Tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih hebat. Semua kembali menjadi keluarga besar HKI yang pernah ditempa oleh guru-guru yang sama.
Di situlah aku memahami bahwa ilmu sejati bukan hanya melahirkan orang-orang pintar, tetapi juga melahirkan pribadi yang berakhlak dan bermanfaat.
Aku teringat sebuah pesan yang sering disampaikan para ulama:
"Ilmu yang berkah bukanlah ilmu yang hanya memenuhi kepala, tetapi ilmu yang mampu menerangi hati dan memberi manfaat bagi sesama."
Hari itu aku melihat sendiri bagaimana ilmu HKI telah mengantarkan para alumninya mengabdi di berbagai bidang. Ada yang menjadi penghulu, ada yang menjadi advokat, ada yang menjadi pegawai pemerintah, ada yang menjadi pendidik, dan banyak lagi yang mengabdikan dirinya untuk masyarakat.
Sore mulai menjelang ketika kendaraan yang kutumpangi semakin mendekati tempat kerjaku. Aku menatap langit dan tersenyum kecil.
Siapa sangka, seorang mahasiswa biasa yang dulu duduk di bangku kuliah dengan segala keterbatasannya, kini dapat kembali ke almamater sebagai bagian dari proses penting penentuan masa depan program studi.
Aku sadar, mungkin peranku tidak besar.
Mungkin apa yang kusampaikan kepada asesor hanya berlangsung beberapa menit.
Mungkin kontribusiku hanyalah setitik dibandingkan perjuangan para dosen yang bertahun-tahun membangun prodi ini.
Tetapi aku percaya, setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas tidak akan pernah sia-sia di sisi Allah SWT.
Karena itu, aku pulang dengan membawa satu keyakinan:
Bahwa kampus yang baik tidak hanya meluluskan mahasiswa, tetapi juga menumbuhkan keluarga besar yang saling menguatkan hingga bertahun-tahun kemudian.
Dan hari itu, aku merasakan kembali hangatnya keluarga besar HKI UNUGIRI Bojonegoro.
Semoga suatu saat nanti, ketika generasi berikutnya berdiri di tempat yang sama, mereka juga dapat berkata dengan bangga:
"Aku pernah belajar di sini. Aku pernah dibimbing oleh guru-guru hebat di sini. Dan aku pernah menjadi bagian dari perjalanan besar kampus ini."
Sebab sejatinya, kampus bukan hanya tempat kita menuntut ilmu.
Kampus adalah tempat di mana mimpi dibangun, karakter dibentuk, persahabatan dipertemukan, dan pengabdian kepada umat mulai ditanamkan.
Dan hari itu, aku kembali pulang dengan membawa satu pelajaran berharga:
Terkadang Allah mempertemukan kita kembali dengan masa lalu, bukan untuk bernostalgia semata, melainkan agar kita menyadari sejauh mana nikmat-Nya telah mengantarkan langkah-langkah kita hingga hari ini.







0 Post a Comment:
Posting Komentar