Sekolah Lagi, UAS Lagi: Perjuangan Drun Menjemput Mimpi

 

Pagi itu embun masih menggantung di ujung dedaunan ketika Drun telah bersiap meninggalkan rumahnya di sebuah desa yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Dengan mengenakan seragam sederhana, membawa tas berisi buku, alat tulis, serta bekal nasi bungkus dan termos kecil berisi kopi hangat dari ibunya, ia melangkah mantap menuju kampus. Baginya, hari itu bukan sekadar menjalani Ujian Akhir Semester (UAS), melainkan satu langkah penting dalam perjalanan meraih cita-cita.

Perjalanan menuju kampus bukanlah sesuatu yang mudah. Jalan yang harus ditempuh cukup jauh, kendaraan umum terbatas, bahkan ia harus berangkat sebelum matahari benar-benar terbit agar tidak terlambat. Namun semua itu tidak pernah mematahkan semangatnya. Di dalam hati, Drun terus mengingat firman Allah:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ

"Dan katakanlah, bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin."
(QS. At-Taubah: 105)

Ayat itulah yang menjadi sumber motivasi setiap kali rasa lelah mulai menghampiri.

Sesampainya di kampus, suasana sudah dipenuhi mahasiswa yang sibuk menyiapkan diri menghadapi ujian. Ada yang masih membuka catatan, ada yang berdiskusi singkat dengan teman, dan ada pula yang memilih berdoa dalam diam. Drun tidak ikut panik. Ia menarik napas panjang, merapikan alat tulisnya, lalu memasuki ruang ujian dengan penuh keyakinan.

Ketika lembar soal dibagikan, Drun membaca setiap pertanyaan dengan tenang. Soal-soal yang tampak rumit tidak membuatnya menyerah. Ia mengingat pesan gurunya bahwa ujian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan kesempatan untuk membuktikan hasil belajar yang telah dilakukan selama satu semester. Dengan penuh kesabaran ia menjawab satu demi satu pertanyaan, sambil sesekali memohon pertolongan Allah agar diberikan kemudahan.

Di tengah ujian, pensil yang digunakannya hampir habis. Untung saja ia telah menyiapkan pensil cadangan. Senyum kecil pun terukir di wajahnya. Baginya, keberhasilan bukan hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh kesiapan, kedisiplinan, dan ketenangan dalam menghadapi setiap keadaan.

Tak terasa waktu ujian berakhir. Ketika pengawas meminta seluruh peserta mengumpulkan lembar jawaban, Drun menutup jawabannya dengan rasa syukur. Ia memang tidak yakin semua jawabannya benar, tetapi ia yakin telah memberikan usaha terbaik yang mampu ia lakukan.

Perjalanan pulang terasa jauh lebih ringan. Di sepanjang perjalanan, Drun bertemu beberapa teman yang sama-sama baru selesai mengikuti UAS. Mereka saling bertukar cerita, tertawa mengenang soal-soal yang sulit, dan saling menyemangati untuk menghadapi mata kuliah berikutnya. Canda mereka menghapus rasa tegang yang sejak pagi memenuhi pikiran.

Sesampainya di rumah, Drun disambut senyum hangat kedua orang tuanya. Mereka tidak langsung bertanya tentang nilai atau hasil ujian, melainkan menanyakan apakah ia sudah makan dan bagaimana perjalanannya. Saat itulah Drun menyadari bahwa perjuangannya bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk membahagiakan orang-orang yang selalu mendoakannya.

Sejak hari itu, setiap kali mendengar kalimat "Sekolah Lagi, UAS Lagi", Drun tidak lagi memandangnya sebagai beban. Baginya, UAS adalah bagian dari proses menempa diri menjadi pribadi yang lebih disiplin, lebih tangguh, dan lebih siap menghadapi tantangan kehidupan. Sebab ia percaya bahwa keberhasilan bukan hanya milik mereka yang paling pintar, tetapi juga milik mereka yang terus belajar, berusaha, berdoa, dan tidak pernah menyerah. Sebagaimana pepatah Arab yang selalu ia pegang teguh:

مَنْ جَدَّ وَجَدَ

"Barang siapa bersungguh-sungguh, niscaya ia akan memperoleh keberhasilan."


Hikmah di Balik Ujian

Perjalanan Drun mengajarkan bahwa setiap ujian, baik di ruang kelas maupun dalam kehidupan, sesungguhnya adalah sarana untuk mengukur kesungguhan seseorang. Nilai yang tertulis di lembar hasil ujian memang penting, tetapi yang lebih berharga adalah karakter yang terbentuk selama proses mempersiapkannya. Disiplin bangun sebelum fajar, tekun mengulang pelajaran, menghargai waktu, serta berani menghadapi tantangan merupakan bekal yang akan terus berguna sepanjang hayat.

Allah Swt. berfirman:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
(QS. Al-Baqarah: 286)

Ayat ini menjadi penguat hati Drun. Ia yakin bahwa soal ujian yang dihadapinya tidak akan pernah melebihi kemampuan yang telah Allah anugerahkan kepadanya. Yang dibutuhkan hanyalah usaha yang sungguh-sungguh, kesabaran, dan keyakinan bahwa setiap ikhtiar akan memperoleh balasan terbaik.

Suatu sore setelah UAS usai, Drun duduk di beranda rumah sambil menikmati secangkir kopi hangat. Angin desa berembus perlahan membawa aroma sawah yang mulai menguning. Ayahnya menghampiri dan bertanya dengan lembut,

"Bagaimana ujiannya, Nak?"

Drun tersenyum.

"Insya Allah sudah berusaha semaksimal mungkin, Pak. Hasilnya saya serahkan kepada Allah."

Sang ayah mengangguk sambil menepuk bahu anaknya.

"Itulah yang paling penting. Jangan pernah takut dengan ujian. Yang harus ditakuti adalah ketika kita tidak mau belajar dan tidak mau berusaha."

Nasihat sederhana itu membekas kuat di hati Drun. Ia menyadari bahwa kesuksesan bukanlah hadiah yang datang secara tiba-tiba, melainkan buah dari proses panjang yang dipenuhi kerja keras, doa, dan tawakal.

Belajar Tidak Berakhir Setelah UAS

Beberapa hari kemudian, hasil ujian diumumkan. Ada mata kuliah yang nilainya sangat memuaskan, namun ada pula yang belum sesuai harapan. Anehnya, Drun tidak kecewa berlebihan. Ia justru menjadikan hasil tersebut sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki cara belajarnya pada semester berikutnya.

Ia teringat sebuah ungkapan bijak:

التَّجْرِبَةُ خَيْرُ مُعَلِّمٍ

"Pengalaman adalah guru yang terbaik."

Setiap kesalahan adalah pelajaran. Setiap kegagalan adalah kesempatan untuk bangkit menjadi lebih baik.

Sejak saat itu, Drun mulai menyusun jadwal belajar yang lebih teratur. Ia tidak lagi belajar hanya menjelang ujian, tetapi membiasakan membaca kembali materi setiap selesai perkuliahan. Ia juga aktif berdiskusi dengan teman-temannya, memanfaatkan perpustakaan kampus, dan tidak malu bertanya kepada dosen ketika ada materi yang belum dipahami.

Pesan untuk Para Pelajar

Bagi siapa pun yang sedang menghadapi Ujian Akhir Semester, ingatlah bahwa ujian hanyalah satu bagian kecil dari perjalanan panjang menuju masa depan. Jangan jadikan ujian sebagai alasan untuk menyerah, melainkan sebagai kesempatan untuk menunjukkan kualitas diri.

Persiapkan diri dengan belajar secara konsisten, istirahat yang cukup, menjaga kesehatan, memperbanyak doa, serta memohon ridha kedua orang tua. Sebab doa orang tua merupakan salah satu kekuatan yang sering kali tidak terlihat, tetapi mampu membuka pintu-pintu kemudahan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجِزْ

"Bersungguh-sungguhlah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau merasa lemah."
(HR. Muslim No. 2664)

Semoga setiap lembar jawaban yang ditulis dengan penuh kejujuran menjadi amal kebaikan. Semoga setiap tetes keringat saat belajar menjadi saksi kesungguhan di hadapan Allah Swt. Dan semoga setiap langkah menuju sekolah, kampus, maupun tempat menuntut ilmu menjadi jalan yang mengantarkan kita kepada ilmu yang bermanfaat, akhlak yang mulia, serta masa depan yang penuh keberkahan.

Karena sesungguhnya, "Sekolah Lagi, UAS Lagi" bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan kisah tentang perjuangan, kesabaran, dan keyakinan bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan menemukan jalan menuju kesuksesan.

Rama dan Sinta (Bukan Kisah dalam Wayang)

"Ada cinta yang tidak pernah diucapkan, tetapi tetap hidup sepanjang usia. Ada perpisahan yang tidak pernah diumumkan, tetapi diam-diam mengubah jalan hidup dua manusia."

Aku seorang dalang.

Puluhan tahun tanganku memainkan kisah Ramayana. Di balik kelir, Rama selalu berhasil menemukan Sinta. Rahwana selalu tumbang. Hanoman selalu datang membawa harapan. Dan setiap pementasan selalu ditutup dengan tepuk tangan, seolah dunia memang diciptakan untuk menghadiahkan akhir yang bahagia bagi mereka yang setia.

Namun malam ini, aku ingin bercerita tentang Rama dan Sinta yang lain.

Mereka bukan pangeran dan putri.

Mereka tidak tinggal di Ayodhya.

Tidak ada kerajaan Alengka.

Tidak ada peperangan besar.

Yang ada hanyalah dua hati muda yang dipertemukan di sebuah pesantren.


Rama hanyalah seorang santri yang pendiam.

Ia lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan daripada bercanda di halaman. Buku-buku menjadi sahabatnya, sementara doa-doa menjadi tempat ia menyembunyikan cita-cita.

Di kelas itulah pertama kali ia mengenal seorang gadis.

Namanya Sinta.

Sinta bukan gadis yang paling cantik menurut ukuran dunia. Tetapi entah mengapa, setiap kali ia tersenyum, suasana kelas terasa lebih hangat. Cara ia berbicara selalu lembut. Cara ia menghormati guru membuat siapa pun segan.

Rama tidak pernah berani mendekat.

Ia hanya mengenalnya dari kejauhan.

Sesekali mereka berbicara ketika tugas kelompok mempertemukan mereka. Selebihnya, mereka menjalani hari seperti dua garis yang berjalan sejajar—dekat, tetapi tak pernah benar-benar bertemu.


Hari-hari berlalu.

Musim berganti.

Tanpa mereka sadari, keduanya mulai saling memperhatikan.

Rama selalu tahu ketika Sinta sedang bersedih.

Sinta pun hafal kapan Rama sedang kelelahan menghafal pelajaran.

Namun di lingkungan pesantren, menjaga hati adalah bagian dari adab.

Perasaan yang tumbuh dibiarkan tetap menjadi rahasia.

Tak ada surat cinta.

Tak ada janji.

Tak ada kata "aku mencintaimu."

Yang ada hanyalah doa-doa yang dipanjatkan dalam diam.


Kelulusan akhirnya tiba.

Semua santri saling bersalaman.

Tangis perpisahan terdengar di mana-mana.

Rama melihat Sinta berdiri bersama teman-temannya.

Untuk pertama kalinya ia ingin mengatakan sesuatu.

Apa saja.

Mungkin sekadar mengucapkan terima kasih karena pernah hadir dalam perjalanan hidupnya.

Namun lidahnya kelu.

Sebelum keberanian itu datang, kendaraan yang membawa Sinta perlahan meninggalkan pesantren.

Rama hanya mampu memandang debu jalan yang semakin menjauh.

Sejak hari itu, mereka benar-benar kehilangan kabar satu sama lain.


Bertahun-tahun berlalu.

Rama melanjutkan pendidikan.

Kemudian bekerja.

Kesibukan membuat hidup berjalan lebih cepat daripada yang pernah ia bayangkan.

Tetapi ada satu kenangan yang tidak pernah benar-benar hilang.

Setiap melihat hujan sore, ia teringat gadis yang pernah duduk beberapa bangku di depannya.

Setiap mendengar lagu lama, wajah Sinta kembali hadir dalam ingatan.

Ia sering bertanya dalam hati,

"Apakah ia sudah bahagia?"


Di tempat yang berbeda, ternyata Sinta pun menyimpan kenangan yang sama.

Ia masih mengingat pemuda yang tidak banyak bicara, tetapi selalu menjadi yang pertama membantu teman-temannya.

Ia ingat bagaimana Rama lebih memilih diam daripada mencari perhatian.

Dan justru karena itulah ia berbeda.

Beberapa kali Sinta mencoba mencari kabarnya.

Namun waktu telah menghapus jejak yang mudah dilacak.

Yang tersisa hanyalah nama dan kenangan.


Suatu hari, setelah belasan tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali.

Bukan di pesantren.

Bukan di ruang kelas.

Melainkan di sebuah acara reuni sederhana.

Rama hampir tidak mengenali perempuan yang berdiri beberapa meter di depannya.

Begitu pula Sinta.

Tetapi ketika mata mereka bertemu, waktu seolah berhenti.

Tak ada lagi jarak belasan tahun.

Tak ada lagi usia yang bertambah.

Yang tersisa hanyalah dua insan yang sama-sama menyadari bahwa sebagian cerita hidup mereka ternyata belum pernah benar-benar selesai.


Mereka berbincang panjang.

Tentang keluarga.

Tentang pekerjaan.

Tentang perjuangan hidup yang ternyata tidak mudah.

Sesekali mereka tertawa mengenang masa-masa menjadi santri.

Sesekali mereka terdiam, membiarkan kenangan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.

Di penghujung pertemuan itu, Rama akhirnya mengucapkan kalimat yang selama bertahun-tahun tertahan.

"Dulu aku sering ingin menyapamu lebih lama. Tapi aku takut merusak adab yang kami jaga."

Sinta tersenyum.

Matanya berkaca-kaca.

"Aku tahu."

Jawaban itu sederhana.

Namun cukup untuk menjelaskan bahwa ternyata selama ini mereka sama-sama menyimpan rasa yang tidak pernah sempat diberi nama.


Malam semakin larut.

Mereka berpisah kembali.

Kali ini tanpa penyesalan.

Karena mereka sadar, tidak semua kisah cinta harus berakhir dengan pernikahan agar menjadi indah.

Ada cinta yang memang ditakdirkan menjadi pelajaran tentang kesucian hati.

Ada perasaan yang sengaja Allah titipkan, bukan untuk dimiliki, melainkan agar manusia belajar menghargai keikhlasan.

Dan mungkin, itulah sebabnya kisah mereka lebih indah daripada cerita dalam wayang.

Karena Rama dan Sinta yang ini tidak pernah berperang melawan Rahwana.

Mereka hanya berjuang melawan ego, waktu, dan takdir.

Dan ternyata, itulah peperangan yang paling berat bagi setiap manusia.


Ketika Takdir Memilih Jalannya Sendiri

Pertemuan itu hanya berlangsung beberapa jam.

Namun bagi Rama dan Sinta, beberapa jam itu terasa seperti membuka kembali sebuah buku lama yang selama ini tersimpan rapi di sudut hati.

Tidak ada janji untuk bertemu lagi.

Tidak ada kalimat, "Aku akan menghubungimu."

Mereka sama-sama telah dewasa. Masing-masing telah memahami bahwa hidup bukan lagi tentang mengikuti keinginan hati semata, tetapi juga tentang menghormati jalan yang telah Allah tetapkan.

Sebelum berpisah, Rama berkata pelan,

"Terima kasih... karena pernah menjadi bagian dari masa mudaku."

Sinta tersenyum.

"Justru aku yang harus berterima kasih. Ada orang yang hadir sebentar, tetapi mengajarkan bahwa menghormati seseorang jauh lebih indah daripada memilikinya."

Rama mengangguk.

Untuk pertama kalinya setelah sekian belas tahun, hatinya terasa benar-benar tenang.


Waktu Terus Berjalan

Sejak hari itu mereka kembali menjalani kehidupan masing-masing.

Sesekali mereka saling mengirim ucapan ketika hari raya tiba.

Kadang saling mendoakan ketika mendengar kabar tentang keluarga.

Hubungan mereka tidak pernah melewati batas.

Tidak pula kembali menjadi kisah asmara.

Mereka memilih menjaga apa yang tersisa: rasa hormat dan persaudaraan.

Rama mulai memahami satu hal.

Cinta yang matang bukanlah keinginan untuk memiliki.

Cinta yang matang adalah kemampuan mendoakan kebahagiaan seseorang, meskipun kebahagiaan itu tidak selalu bersama kita.


Suatu Senja

Beberapa tahun kemudian Rama kembali tampil sebagai dalang dalam sebuah pagelaran wayang.

Lakon malam itu adalah "Rama Tambak."

Di balik kelir, tokoh Rama kembali mencari jalan menuju Sinta.

Penonton terpukau.

Anak-anak tertawa.

Orang-orang tua mengangguk menikmati cerita yang telah diwariskan selama berabad-abad.

Namun hanya Rama yang mengetahui, setiap kali menyebut nama "Sinta", yang terlintas di benaknya bukanlah tokoh pewayangan.

Melainkan seorang perempuan sederhana yang pernah menemaninya tumbuh menjadi dewasa, tanpa pernah benar-benar menjadi miliknya.

Selesai pementasan, seorang anak kecil bertanya kepadanya,

"Pak Dalang, apakah semua Rama akhirnya bisa bertemu dengan Sintanya?"

Rama tersenyum lama.

Lalu menjawab,

"Tidak, Nak."

Anak itu tampak heran.

"Tapi bukankah di cerita wayang mereka bertemu?"

Rama mengangguk.

"Iya. Di dunia wayang memang begitu. Tetapi dalam kehidupan, kadang Allah mengajarkan bahwa tidak semua pertemuan diciptakan untuk memiliki. Ada yang dipertemukan agar kita belajar mencintai dengan cara yang benar, lalu belajar mengikhlaskan dengan hati yang lapang."

Anak itu terdiam, meski mungkin belum sepenuhnya memahami.


Surat yang Tak Pernah Dikirim

Pada suatu malam, ketika hujan turun perlahan di luar jendela, Rama membuka buku catatan lamanya.

Di antara halaman-halaman yang mulai menguning, terselip secarik kertas.

Ternyata itu adalah surat yang pernah ia tulis bertahun-tahun silam.

Surat yang tidak pernah berani ia berikan.

Isinya sederhana.

"Sinta...

Aku tidak tahu apakah ini disebut cinta atau sekadar kagum. Yang aku tahu, setiap kali melihatmu, aku ingin menjadi manusia yang lebih baik. Jika suatu hari Allah memilih orang lain untuk mendampingimu, semoga ia mampu menjagamu lebih baik daripada yang mungkin pernah aku bayangkan."

Rama membaca surat itu hingga selesai.

Kemudian ia tersenyum.

Perlahan surat itu ia lipat kembali.

Bukan karena ingin melupakan.

Melainkan karena kini ia telah memahami bahwa beberapa cerita memang lebih indah tetap menjadi kenangan.


Pesan Kehidupan

Malam itu Rama kembali menatap langit.

Bintang-bintang bertaburan seperti ketika ia masih menjadi santri.

Ia berbisik dalam hati,

"Ya Allah, terima kasih. Engkau tidak selalu mengabulkan apa yang aku inginkan, tetapi Engkau selalu memberikan apa yang paling aku butuhkan."

Ia sadar, cinta bukan hanya tentang bersanding di pelaminan.

Cinta juga bisa hadir dalam bentuk doa yang tidak pernah putus.

Dalam bentuk keikhlasan yang tidak pernah dipamerkan.

Dan dalam kenangan yang selalu mengajarkan seseorang untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Sebab pada akhirnya, kisah yang paling indah bukanlah kisah dua orang yang selalu bersama.

Melainkan kisah dua hati yang sama-sama belajar mencintai karena Allah, menjaga adab di atas hawa nafsu, lalu menerima setiap ketetapan-Nya dengan penuh keridaan.

"Tidak semua cinta berakhir dengan pernikahan. Namun setiap cinta yang dijaga dalam ketaatan akan bernilai ibadah di sisi Allah."

"Kembali ke Almamater, Menjemput Takdir: Dari Bangku Mahasiswa Menuju Saksi Keunggulan Kampus Tercinta"


Sekitar sepekan yang lalu, telepon dari Bu Kaprodi HKI membuatku terdiam sejenak. Beliau menyampaikan sebuah permintaan yang bagiku bukan sekadar undangan biasa. Aku diminta menjadi salah satu perwakilan alumni Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) untuk mengikuti rangkaian Asesmen Akreditasi Prodi HKI UNUGIRI Bojonegoro.

Agak sedikit berpikir panjang, namun pada ahirnya aku menyatakan kesediaanku. Bagaimanapun, kampus ini bukanlah tempat yang asing bagiku. Di sinilah aku pernah menempuh perjalanan panjang menuntut ilmu sebagai mahasiswa S1. Banyak kenangan, perjuangan, dan doa yang pernah kutitipkan di setiap sudut kampus itu.

Hari Selasa, 2 Juni 2026, aku menghadiri briefing persiapan akreditasi di kampus tercinta. Saat memasuki Gedung Rektorat, hatiku seolah diajak kembali menelusuri lorong waktu. Langkah demi langkah yang dulu kulalui sebagai mahasiswa kini kulewati sebagai seorang alumni.

Sesampainya di lokasi, Bu Hana (Ibu Kaprodi HKI) menyambutku dengan ramah dan langsung mengantarkanku menuju ruang rapat. Di dalam ruangan itu ternyata telah hadir banyak alumni dari berbagai angkatan serta para stakeholder yang akan terlibat dalam proses asesmen.

Aku memperhatikan satu per satu wajah yang hadir. Ada alumni-alumni senior yang telah sukses meniti karier di berbagai bidang. Sebagian menjadi praktisi hukum, sebagian mengabdi di instansi pemerintahan, dan sebagian lagi menjadi tokoh yang berkontribusi di tengah masyarakat.

Di tengah briefing tersebut, tim panitia akreditasi menjelaskan berbagai hal yang perlu dipersiapkan. Salah satu tugas yang harus kulaksanakan adalah memberikan gambaran kepada asesor mengenai kualitas Prodi HKI, keunggulan-keunggulannya, serta manfaat nyata yang kurasakan selama menjadi mahasiswa hingga menjalani kehidupan profesional saat ini.

Mendengar penjelasan itu, pikiranku melayang pada masa-masa kuliah dahulu. Ternyata ilmu yang dulu kupelajari tidak hanya berhenti di ruang kelas. Ia menjadi bekal yang terus menuntunku dalam menjalankan tugas sebagai pegawai teknis di KUA. Saat itulah aku menyadari bahwa menjadi alumni bukan sekadar pernah belajar di sebuah kampus, tetapi juga menjadi bukti hidup atas keberhasilan pendidikan yang diberikan kampus tersebut.

Selesai briefing, aku pulang dengan membawa satu tugas penting: mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi pertemuan dengan tim asesor keesokan harinya.


Pagi hari Rabu 3 Juni 2026, aku berangkat lebih awal dari biasanya. Aku ingin tiba lebih cepat agar dapat beristirahat sejenak dan menghadapi proses wawancara dengan kondisi yang prima.

Setibanya di kampus, suasana mulai ramai. Aku langsung menuju Gedung Rektorat. Di sana aku disambut hangat oleh Pak Anam, dosen yang dahulu pernah menjadi pembimbing skripsiku. Rasanya seperti bertemu kembali dengan keluarga lama yang telah lama tak bersua.

Tak lama kemudian aku bertemu dengan para alumni yang sehari sebelumnya hadir dalam briefing. Ada Pak Mutakin, seorang penghulu di KUA Bangilan Tuban yang penuh pengalaman. Ada Mas Amim Thobari, Mas Fauzan, dan Mas Afan, para lawyer muda yang sukses mengembangkan kariernya. Aku juga bertemu dengan Bapak Anamnulloh dari Kementerian Agama Kabupaten Bojonegoro yang hadir mewakili stakeholder.

Kami berbincang santai, saling bertukar cerita dan pengalaman hidup. Ruangan itu terasa hangat oleh kenangan dan persaudaraan. Tidak ada sekat jabatan ataupun profesi. Yang ada hanyalah ikatan yang sama sebagai keluarga besar HKI UNUGIRI.

Tak lama kemudian seorang dosen memanggil kami menuju ruang asesor. Jantungku mulai berdegup lebih cepat. Meski bukan pertama kali berbicara di depan orang lain, tetap saja ada rasa gugup ketika harus mewakili almamater di hadapan tim penilai.

Ketika memasuki ruangan, asesor menyambut kami dengan ramah. Mereka kemudian mulai mengajukan pertanyaan satu demi satu.

Aku mendapat kesempatan menjelaskan bagaimana ilmu yang diperoleh dari HKI sangat membantu pekerjaanku di KUA. Pak Mutakin menjelaskan manfaat pendidikan HKI dalam tugasnya sebagai penghulu. Sementara Mas Fauzan dan Mas Revanda memaparkan bagaimana bekal akademik dari HKI menjadi fondasi penting dalam profesi mereka sebagai advokat.

Setiap jawaban yang kami sampaikan bukanlah hasil hafalan. Itu adalah pengalaman nyata yang kami jalani sehari-hari. Kami berbicara bukan hanya sebagai alumni, tetapi sebagai saksi hidup bahwa ilmu yang diperoleh dari kampus benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.

Setelah sesi wawancara dianggap cukup, kami dipersilakan keluar ruangan.

Saat kembali ke luar, suasana berubah menjadi penuh kehangatan. Kami berbincang dengan para dosen, mengenang masa-masa kuliah, tertawa bersama, dan saling mendoakan kesuksesan. Seakan-akan hari itu bukan sekadar kegiatan akreditasi, melainkan sebuah reuni yang mempertemukan kembali orang-orang yang pernah berjalan di jalan perjuangan yang sama.

Di tengah kebersamaan itu, aku merasakan sebuah kebanggaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tidak semua alumni mendapat kesempatan untuk kembali berkontribusi secara langsung bagi kampus yang telah membesarkannya.

Aku menyadari bahwa sekecil apa pun peran yang kami lakukan hari itu, semuanya adalah bentuk bakti kepada almamater. Sebab kampus bukan hanya tempat mencari ijazah, tetapi juga tempat menempa karakter, memperluas wawasan, dan membentuk masa depan.

Menjelang sore, aku berpamitan dan kembali menuju tempat tugasku. Namun ada sesuatu yang berbeda saat meninggalkan kampus hari itu. Aku pulang bukan hanya membawa kenangan, melainkan juga rasa syukur yang mendalam.

Syukur karena pernah menjadi bagian dari keluarga besar HKI UNUGIRI.

Syukur karena dipertemukan kembali dengan para guru dan sahabat seperjuangan.

Dan syukur karena masih diberi kesempatan untuk memberikan sesuatu bagi kampus tercinta.

Dalam hati aku berdoa:

"Ya Allah, jadikan ikhtiar kecil kami ini sebagai amal kebaikan. Berikan kemajuan bagi UNUGIRI Bojonegoro, khususnya Program Studi Hukum Keluarga Islam. Limpahkan keberkahan kepada seluruh dosen, mahasiswa, alumni, dan pengelolanya. Dan semoga Prodi HKI memperoleh hasil terbaik serta meraih Akreditasi UNGGUL."

Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah kampus bukan hanya milik civitas akademik yang ada di dalamnya, tetapi juga menjadi kebanggaan seluruh alumni yang pernah tumbuh dan belajar di sana.


Sebuah Pelajaran yang Tak Tertulis di Ruang Kuliah

Dalam perjalanan pulang menuju kantor, pikiranku terus mengulang kejadian demi kejadian yang baru saja kulalui. Jalan yang kulewati terasa berbeda dari biasanya. Bukan karena pemandangannya berubah, melainkan karena hatiku sedang dipenuhi rasa syukur dan haru.

Aku teringat masa-masa ketika masih menjadi mahasiswa. Dulu aku sering datang ke kampus dengan membawa banyak harapan. Kadang harus berjuang membagi waktu antara kuliah, pekerjaan, organisasi, dan berbagai tanggung jawab lainnya. Ada saat-saat lelah, ada masa-masa sulit menyelesaikan tugas, bahkan ada waktu ketika aku merasa kemampuan diriku begitu terbatas.

Namun hari ini, ketika duduk di hadapan asesor sebagai alumni, aku menyadari bahwa setiap perjuangan itu ternyata tidak pernah sia-sia.

Allah telah mempertemukanku kembali dengan kampus ini dalam posisi yang berbeda. Jika dahulu aku datang sebagai pencari ilmu, hari ini aku hadir sebagai saksi atas manfaat ilmu yang pernah kuterima.

Aku juga belajar bahwa kesuksesan seseorang tidak selalu diukur dari jabatan atau gelar yang disandangnya. Ketika bertemu para alumni senior yang kini telah berhasil di bidangnya masing-masing, aku melihat satu kesamaan di antara mereka: kerendahan hati.

Meski memiliki profesi yang berbeda-beda, kami tetap duduk bersama, bercengkrama, saling menghormati, dan mengenang masa-masa sebagai mahasiswa. Tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih hebat. Semua kembali menjadi keluarga besar HKI yang pernah ditempa oleh guru-guru yang sama.

Di situlah aku memahami bahwa ilmu sejati bukan hanya melahirkan orang-orang pintar, tetapi juga melahirkan pribadi yang berakhlak dan bermanfaat.

Aku teringat sebuah pesan yang sering disampaikan para ulama:

"Ilmu yang berkah bukanlah ilmu yang hanya memenuhi kepala, tetapi ilmu yang mampu menerangi hati dan memberi manfaat bagi sesama."

Hari itu aku melihat sendiri bagaimana ilmu HKI telah mengantarkan para alumninya mengabdi di berbagai bidang. Ada yang menjadi penghulu, ada yang menjadi advokat, ada yang menjadi pegawai pemerintah, ada yang menjadi pendidik, dan banyak lagi yang mengabdikan dirinya untuk masyarakat.


Sore mulai menjelang ketika kendaraan yang kutumpangi semakin mendekati tempat kerjaku. Aku menatap langit dan tersenyum kecil.

Siapa sangka, seorang mahasiswa biasa yang dulu duduk di bangku kuliah dengan segala keterbatasannya, kini dapat kembali ke almamater sebagai bagian dari proses penting penentuan masa depan program studi.

Aku sadar, mungkin peranku tidak besar.

Mungkin apa yang kusampaikan kepada asesor hanya berlangsung beberapa menit.

Mungkin kontribusiku hanyalah setitik dibandingkan perjuangan para dosen yang bertahun-tahun membangun prodi ini.

Tetapi aku percaya, setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas tidak akan pernah sia-sia di sisi Allah SWT.

Karena itu, aku pulang dengan membawa satu keyakinan:

Bahwa kampus yang baik tidak hanya meluluskan mahasiswa, tetapi juga menumbuhkan keluarga besar yang saling menguatkan hingga bertahun-tahun kemudian.

Dan hari itu, aku merasakan kembali hangatnya keluarga besar HKI UNUGIRI Bojonegoro.

Semoga suatu saat nanti, ketika generasi berikutnya berdiri di tempat yang sama, mereka juga dapat berkata dengan bangga:

"Aku pernah belajar di sini. Aku pernah dibimbing oleh guru-guru hebat di sini. Dan aku pernah menjadi bagian dari perjalanan besar kampus ini."

Sebab sejatinya, kampus bukan hanya tempat kita menuntut ilmu.

Kampus adalah tempat di mana mimpi dibangun, karakter dibentuk, persahabatan dipertemukan, dan pengabdian kepada umat mulai ditanamkan.

Dan hari itu, aku kembali pulang dengan membawa satu pelajaran berharga:

Terkadang Allah mempertemukan kita kembali dengan masa lalu, bukan untuk bernostalgia semata, melainkan agar kita menyadari sejauh mana nikmat-Nya telah mengantarkan langkah-langkah kita hingga hari ini.

"Di Ambang Magrib, di Serambi Masjid: Doa Mbah Hasyim yang Membuat Mataku Berkaca-kaca"

 

Margomulyo-Selasa, 9 Juni 2026. Siang itu, sekitar pukul 13.30 WIB, saya bersama beberapa rekan dari Kantor Urusan Agama (KUA) sedang menghadiri undangan di rumah Pak Uddin, salah satu teman kerja kami, yang berada di Dusun Bandung, Kalangan. Suasana desa terasa teduh selepas waktu Zuhur. Kami datang untuk memenuhi undangan tasyakuran keluarga besar Pak Uddin yang saat itu tengah bersyukur atas keberangkatan mertuanya yang akan menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci.

Bersamaan dengan acara tasyakuran tersebut, masyarakat setempat juga mengadakan tradisi “Nggemblang”, yang dalam istilah lain dapat dipahami sebagai sedekah bumi atau ungkapan rasa syukur atas nikmat dan keberkahan yang telah Allah limpahkan. Acara berlangsung sederhana namun penuh keakraban.

Selain para pegawai KUA, hadir pula rombongan guru-guru MI yang merupakan rekan kerja istri Pak Uddin. Ruangan utama rumah itu dipenuhi canda, tawa, dan obrolan ringan. Sebagaimana lazimnya acara Nggemblang, porsi terbesar kegiatan lebih banyak diisi dengan makan bersama dan berbincang santai mengenai berbagai hal keseharian; mulai dari pekerjaan, keluarga, hingga perkembangan masyarakat sekitar.

Di tengah riuh rendah percakapan dan suasana kekeluargaan yang hangat itu, tiba-tiba telepon genggam saya berdering. Nama yang muncul di layar membuat saya seketika terdiam dan menatap beberapa saat dengan rasa tak percaya.

Yang menelepon adalah seorang kiai sepuh yang sangat saya hormati, sosok alim yang namanya dikenal luas di kalangan masyarakat Bojonegoro bagian barat, khususnya Kecamatan Malo. Beliau adalah Kiai Hasyim Rosyidi, atau yang akrab kami panggil Mbah Hasyim.

Beberapa waktu terakhir, saya mendengar kabar bahwa beliau sedang mendapatkan ujian sakit. Karena itulah, ketika melihat namanya muncul di layar telepon, hati saya langsung dipenuhi rasa haru dan bahagia.

Saya segera mengangkat telepon tersebut.

“Assalamu’alaikum...”

Suara serak namun tetap penuh kewibawaan terdengar dari seberang sana. Meski kondisi kesehatan beliau sedang diuji, aura keteguhan seorang ulama tetap terasa jelas dari setiap kata yang diucapkan.

“Wa’alaikumussalam warahmah...” jawab saya spontan dengan nada sedikit gugup bercampur gembira.

Mendengar langsung suara beliau rasanya seperti mendapatkan energi baru. Setelah itu saya melanjutkan dengan penuh hormat,

“Injeh Mbah, wonten dawuh?”

(Iya Mbah, ada perintah apa?)

Dengan singkat beliau menjawab,

“Aku ape neng Masjid An-Nahdla.”

(Aku mau ke Masjid An-Nahdla.)

Saya yang belum memahami maksud lebih lanjut segera menjawab,

“Oooh... Injeh Mbah, sumonggo.”

(Oooh iya Mbah, silakan.)

Belum sempat saya berkata banyak, Mbah Hasyim kembali melanjutkan dengan nada khas beliau yang tegas namun penuh kasih sayang.

“Maksudte awakmu ya merapat mrene.”

(Maksudnya dirimu juga harus ke sini.)

Seketika saya memahami maksud beliau. Ternyata bukan sekadar memberi kabar bahwa beliau akan ke Masjid An-Nahdla, tetapi juga menghendaki saya untuk hadir dan menemuinya di sana.

Tanpa berpikir panjang saya langsung menjawab,

“Ooooh... Injeh Mbah, siap.”

Di saat itu pula hati saya bergetar. Bukan karena merasa mendapat perintah dari seorang ulama besar, tetapi karena saya merasakan sebuah kehormatan yang tidak setiap hari datang. Di tengah kondisi kesehatan beliau yang sedang menurun, ternyata Mbah Hasyim masih berkenan mengingat dan memanggil saya untuk hadir menemuinya.


Sekitar satu jam kemudian, acara di rumah Pak Udin pun berakhir. Saya pun berpamitan kepada rekan-rekan yang masih menikmati suasana Nggemblang di rumah Pak Uddin. Para tamu mulai berpamitan satu per satu. Saya bersama rombongan dari KUA kemudian kembali menuju kantor. Sepanjang perjalanan, pikiran saya sesekali melayang pada panggilan telepon dari Mbah Hasyim tadi siang. Ada rasa penasaran sekaligus bahagia karena sebentar lagi saya akan bertemu langsung dengan beliau.

Sesampainya di KUA, hari sudah beranjak sore. Aktivitas kantor mulai mereda. Sebagian pegawai menyelesaikan pekerjaan terakhir sebelum pulang. Setelah melakukan absensi pulang dan menuntaskan beberapa urusan ringan, saya berpamitan kepada Bapak Kepala KUA serta teman-teman kantor.

“Assalamu’alaikum, saya izin dulu,” ucap saya singkat.

“Wa’alaikumussalam, monggo,” jawab mereka.

Begitu keluar dari kantor, saya tidak langsung pulang ke rumah. Amanah dari Mbah Hasyim yang disampaikan melalui telepon siang tadi masih terngiang jelas di telinga. Saya pun segera mengarahkan kendaraan menuju Masjid An-Nahdla Sumberjo. 

Dalam perjalanan menuju Masjid An-Nahdla, pikiran saya dipenuhi berbagai kenangan tentang nasihat, wejangan, dan keteladanan Mbah Hasyim yang selama ini menjadi pelita bagi banyak orang.

Perjalanan menuju masjid sore itu terasa berbeda. Ada rasa rindu, hormat, sekaligus harapan agar Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan dan keberkahan umur kepada beliau. Sebab bagi masyarakat, keberadaan seorang ulama bukan hanya sebagai guru agama, melainkan juga sebagai penuntun hati dan penjaga nilai-nilai kebaikan di tengah kehidupan.

Panggilan sederhana melalui telepon siang itu akhirnya menjadi sebuah momen yang sangat berkesan dalam hidup saya. Sebuah panggilan yang bukan sekadar ajakan untuk datang ke masjid, melainkan pengingat bahwa hubungan murid dengan guru, santri dengan kiai, tidak hanya terjalin melalui majelis ilmu, tetapi juga melalui rasa hormat, mahabbah, dan keberkahan doa yang mengalir di antara keduanya.

Dan siang itu, saya merasa menjadi orang yang sangat beruntung karena mendapat kesempatan untuk kembali kepanggih Mbah Hasyim di Masjid An-Nahdla. Sebuah pertemuan sederhana yang nilainya jauh melampaui kata-kata.

Sore itu suasana jalanan tidak terlalu ramai. Langit mulai berubah warna, perlahan meninggalkan terik siang menuju kesejukan petang. Di sepanjang perjalanan, hati saya dipenuhi berbagai perasaan. Saya teringat kondisi kesehatan Mbah Hasyim yang dalam setahun terakhir sedang mendapat ujian sakit. Karena itulah pertemuan ini terasa begitu berharga.

Sesampainya di halaman Masjid An-Nahdla, suasana tampak tenang. Beberapa jamaah terlihat lalu-lalang, sementara sebagian lainnya sedang duduk santai di serambi masjid. Saya memarkir kendaraan lalu melangkah masuk dengan perasaan penuh hormat.

Belum jauh melangkah, pandangan saya langsung tertuju pada sosok yang saya cari.

Di salah satu bagian serambi masjid, tampak Mbah Hasyim duduk bersandar dengan tenang. Wajah beliau terlihat lebih kurus dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, namun pancaran kewibawaan dan keteduhan seorang ulama masih sangat jelas terlihat. Sorot matanya tetap tajam, sementara senyumnya tetap menghadirkan rasa tenteram bagi siapa saja yang memandang.

Saya segera menghampiri beliau.

"Sugeng sonten, Mbah..." ucap saya sembari menundukkan badan dan mencium tangan beliau penuh takzim.

Mbah Hasyim menyambut dengan senyum yang hangat.

"Nggih, alhamdulillah awakmu teko," kata beliau pelan.

(Iya, alhamdulillah kamu datang.)

Mendengar kalimat sederhana itu, hati saya terasa hangat. Rasanya seperti seorang anak yang disambut oleh orang tuanya setelah lama tidak bertemu.

Saya kemudian duduk di samping beliau. Kami berbincang santai. Sesekali beliau bertanya tentang keadaan kantor KUA, MWCNU Margomulyo, kegiatan masyarakat, kondisi para kiai dan tokoh agama yang beliau kenal, serta perkembangan dakwah di wilayah Margomulyo dan sekitarnya.

Meski kondisi fisik beliau tidak sekuat dahulu, saya melihat semangat beliau dalam memikirkan umat tidak pernah berkurang sedikit pun. Yang keluar dari lisan beliau bukan keluhan tentang sakit yang diderita, melainkan pertanyaan-pertanyaan tentang kemaslahatan masyarakat dan perkembangan perjuangan agama.

Saat itulah saya kembali menyadari bahwa para ulama sejati memang berbeda. Ketika kebanyakan orang sibuk memikirkan dirinya sendiri saat sakit, mereka justru tetap memikirkan umat dan masa depan dakwah.

Di sela-sela percakapan, Mbah Hasyim beberapa kali menyampaikan nasihat yang sederhana tetapi sangat dalam maknanya. Beliau mengingatkan pentingnya menjaga keikhlasan dalam berkhidmah, tidak mudah lelah melayani masyarakat, serta terus merawat hubungan baik dengan para ulama dan sesama pejuang agama.

Petang semakin larut. Cahaya matahari yang masuk dari sela-sela bangunan masjid mulai memudar. Namun saya merasa waktu berjalan begitu cepat. Setiap kalimat yang keluar dari lisan beliau terasa seperti mutiara hikmah yang sayang untuk dilewatkan.

Dalam hati saya bersyukur kepada Allah SWT. Andaikan siang tadi saya mengabaikan panggilan telepon beliau, tentu saya akan kehilangan kesempatan berharga ini. Kesempatan untuk duduk bersimpuh di hadapan seorang ulama, mendengarkan nasihatnya secara langsung, dan merasakan keberkahan majelis yang sederhana namun penuh makna.

Sore itu saya memahami satu hal: terkadang Allah menghadirkan panggilan-panggilan kecil dalam hidup kita, tetapi di baliknya tersimpan pelajaran yang besar. Dan panggilan Mbah Hasyim menuju Masjid An-Nahdla hari itu menjadi salah satu momen yang akan selalu saya kenang sepanjang hidup. Sebuah pertemuan yang mengajarkan tentang adab kepada guru, pentingnya menyambung silaturahim, serta keberkahan yang Allah titipkan melalui para ulama-Nya.


Kami duduk bersama di serambi masjid. Percakapan mengalir begitu saja. Saling bertanya kabar, bertukar cerita, dan mengenang berbagai peristiwa yang pernah kami lalui.

Yang paling membekas bagi saya sore itu adalah betapa banyak doa yang beliau panjatkan untuk saya.

Beberapa kali beliau mengangkat tangan sambil mengucapkan doa-doa yang tulus. Beliau mendoakan kesehatan, keselamatan, kemudahan urusan, keberkahan keluarga, serta keberhasilan dalam menjalankan amanah yang sedang saya emban.

Saya hanya bisa mengamini dengan hati yang bergetar.

Bagi sebagian orang, doa mungkin hanya rangkaian kata-kata. Namun bagi saya, doa seorang ulama yang saleh adalah hadiah yang nilainya tak dapat diukur dengan apa pun.

Sebab saya tahu, Mbah Hasyim bukan hanya seorang kiai yang saya hormati. Beliau adalah salah satu sosok yang pernah menjadi penguat jiwa saya pada masa-masa yang cukup berat.

Pikiran saya kemudian melayang pada sekitar tahun 2024.

Saat itu saya sedang menghadapi sebuah persoalan yang cukup menguras pikiran dan perasaan. Sebuah masalah yang pada hakikatnya mungkin tidak layak disebut masalah. Namun begitulah kehidupan. Terkadang sesuatu yang kecil dapat terasa begitu besar ketika hati sedang lelah. Terkadang sesuatu yang sederhana dapat menjadi begitu rumit karena penilaian manusia.

Pada masa itu, saya sempat merasa kecewa, bingung, bahkan mempertanyakan banyak hal. Ada saat-saat di mana saya merasa berjalan sendirian. Ada masa ketika penjelasan yang benar tidak selalu diterima dengan benar, dan niat baik tidak selalu dipahami sebagaimana mestinya.

Namun di tengah keadaan itu, Allah menghadirkan beberapa orang yang menjadi penopang semangat. Salah satunya adalah Mbah Hasyim.

Beliau tidak banyak memberikan ceramah panjang. Tidak pula memberikan teori-teori yang rumit.

Dengan kebijaksanaan seorang ulama yang telah kenyang pengalaman hidup, beliau hanya berkata dengan kalimat-kalimat sederhana yang hingga hari ini masih saya ingat.

Beliau mengingatkan bahwa tidak semua yang kita hadapi harus dilawan. Tidak semua yang dibicarakan orang harus dijawab. Dan tidak semua ujian harus membuat kita berhenti melangkah.

"Sing penting awakmu bener lan istiqamah. Wong urip kuwi ora bakal uwal saka omongane uwong."

(Yang penting kamu benar dan istiqamah. Orang hidup itu tidak akan pernah lepas dari omongan manusia.)

Nasihat itu sederhana.

Tetapi justru kesederhanaan itulah yang menembus hati saya.

Beliau mengajarkan bahwa kehormatan seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya pujian manusia, melainkan oleh sejauh mana ia tetap teguh berada di jalan yang benar ketika diuji oleh keadaan.

Karena itulah, ketika sore itu saya duduk kembali di samping beliau di Masjid An-Nahdla, saya merasa sedang bertemu bukan hanya dengan seorang kiai, tetapi juga dengan seorang guru kehidupan.

Seorang guru yang pernah hadir di saat saya membutuhkan penguatan.

Seorang guru yang dengan doa dan nasihatnya membantu saya melihat masalah secara lebih jernih.

Dan kini, di tengah kondisi beliau yang sedang diuji sakit, justru beliau masih menyempatkan diri memanggil, menyambut, dan mendoakan saya.

Saat itulah saya semakin memahami bahwa kemuliaan seorang ulama tidak hanya tampak dari ilmunya, tetapi juga dari keluasan hatinya. Meskipun beliau sendiri sedang menanggung ujian, perhatian dan kasih sayangnya kepada orang lain tidak pernah berkurang.

Sore itu di halaman Masjid An-Nahdla, saya merasakan kembali pelajaran yang selama ini sering terlupakan: bahwa kekuatan terbesar dalam hidup bukanlah jabatan, harta, ataupun kedudukan, melainkan keberadaan guru-guru saleh yang dengan tulus mendoakan kita dalam diam.

Dan saya bersyukur, Allah masih mempertemukan saya dengan salah satu di antaranya: Mbah Hasyim Rosyidi. Sebuah pertemuan yang sederhana, namun meninggalkan jejak yang sangat dalam di relung hati saya.

Ngilu rasanya jika mengingat masa-masa itu.

Saat hidup terasa berada pada titik yang paling berat. Saat pikiran dipenuhi berbagai pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban. Saat langkah terasa tertahan oleh keadaan yang seolah datang bertubi-tubi. Bahkan terkadang saya merasa seakan semua jalan keluar telah tertutup rapat di hadapan saya.

Di masa seperti itulah seseorang sering diuji, bukan hanya oleh persoalan yang dihadapi, tetapi juga oleh dirinya sendiri. Antara yakin dan ragu. Antara kuat dan lemah. Antara pasrah dan putus asa. Semuanya bercampur menjadi satu warna yang sulit dibedakan.

Pada saat itulah Allah menghadirkan Mbah Hasyim.

Beliau datang bukan membawa solusi-instans, bukan pula membawa kekuatan duniawi yang mampu mengubah keadaan dalam sekejap. Namun beliau membawa sesuatu yang jauh lebih berharga: kabar gembira tentang rahmat Allah.

Beliau mengingatkan saya bahwa rahmat Allah tidak pernah berhenti menyapa hamba-hamba-Nya.

Bahwa sesulit apa pun keadaan, pintu pertolongan Allah tidak pernah benar-benar tertutup.

Bahwa setiap kesempitan selalu menyimpan keluasan yang belum tampak.

Dan bahwa setiap ujian sesungguhnya adalah cara Allah mendidik hamba-Nya agar naik ke derajat yang lebih baik.

Sering kali yang dibutuhkan seseorang bukanlah banyaknya nasihat, melainkan hadirnya seseorang yang mampu membuatnya kembali percaya kepada kasih sayang Allah. Dan bagi saya, pada masa itu, Mbah Hasyim adalah salah satu sosok yang Allah kirimkan untuk tujuan tersebut.

Ketika warna kehidupan terasa kabur, ketika batas antara pasrah dan putus asa seakan tidak lagi terlihat jelas, Mbah Hasyim hadir memberi warna yang nyata.

Beliau mengajarkan bahwa pasrah bukan berarti menyerah.

Beliau mengingatkan bahwa sabar bukan berarti diam tanpa usaha.

Beliau meneguhkan bahwa setiap orang yang berjuang di jalan khidmah pasti akan diuji sesuai kadar amanah yang dipikulnya.

Nasihat-nasihat beliau mungkin terdengar sederhana. Namun dari lisan seorang alim yang mengamalkan ilmunya, kata-kata sederhana itu memiliki daya hidup yang luar biasa. Ia mampu menguatkan hati yang rapuh, menenangkan pikiran yang kusut, dan menghidupkan kembali harapan yang hampir padam.

Karena itulah, ketika sore itu saya kembali duduk bersama beliau di Masjid An-Nahdla, yang saya lihat bukan hanya seorang kiai sepuh yang sedang diuji sakit. Saya melihat seorang guru yang pernah menjadi sebab Allah menguatkan hati saya.

Saya melihat seorang mursyid kehidupan yang dengan kelembutan tutur katanya telah membantu saya melewati fase-fase yang tidak mudah.

Dan saya menyadari, mungkin saya tidak akan pernah mampu menghitung satu per satu kebaikan beliau kepada saya. Sebab sebagian besar jasa seorang guru memang tidak tercatat dalam angka dan tulisan. Ia tersimpan dalam perubahan cara berpikir, dalam keteguhan langkah, dan dalam semangat yang kembali tumbuh setelah hampir layu.

Itulah sepintas kisah yang dapat saya ceritakan dari sekian banyak peran Mbah Hasyim dalam mewarnai perjalanan hidup saya.

Beliau bukan hanya memberi nasihat ketika diminta.

Beliau bukan hanya hadir saat keadaan lapang.

Tetapi beliau hadir ketika hati sedang membutuhkan penguat.

Beliau hadir ketika harapan mulai redup.

Beliau hadir membawa pesan bahwa Allah masih ada, rahmat-Nya masih terbuka, dan masa depan masih menyimpan banyak kemungkinan baik yang belum terlihat oleh mata manusia.

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, keberkahan umur, dan kemuliaan kepada Mbah Hasyim Rosyidi. Dan apabila kelak Allah memanggil beliau menghadap-Nya, semoga segala ilmu, nasihat, doa, dan keteladanan yang telah beliau wariskan menjadi amal jariyah yang terus mengalir tanpa putus.

Karena sesungguhnya, orang-orang seperti Mbah Hasyim adalah lentera kehidupan. Mereka tidak selalu berada di depan kita setiap hari, tetapi cahaya yang mereka tinggalkan akan terus menerangi perjalanan banyak orang, bahkan setelah mereka melangkah jauh meninggalkan dunia ini.


اللَّهُمَّ احْفَظْ مَشَايِخَنَا وَعُلَمَاءَنَا، وَبَارِكْ فِي أَعْمَارِهِمْ وَعِلْمِهِمْ وَدَعْوَتِهِمْ. آمِيْن.


"Ya Allah, jagalah para guru dan ulama kami, limpahkan keberkahan pada umur, ilmu, dan dakwah mereka. Amin."

Hari itu, Mbah Hasyim kembali menyapa saya dengan kehangatan yang sama seperti dulu. Setelah kami cukup lama berbincang, beliau kembali menengadahkan tangan dan memanjatkan doa-doa terbaik untuk saya. Salah satu doa yang paling membekas di hati saya adalah ketika beliau mendoakan agar saya segera diberi rezeki memiliki mobil sebagai sarana untuk memperlancar kegiatan dakwah dan khidmah yang saya jalani.

Saya hanya terdiam.

Mata saya mulai berkaca-kaca.

Bukan semata karena doa tentang kendaraan itu, tetapi karena saya merasakan ketulusan yang begitu dalam dari seorang guru kepada muridnya. Di tengah kondisi beliau yang belum sepenuhnya sehat, Mbah Hasyim masih memikirkan kemanfaatan hidup orang lain. Beliau masih memikirkan bagaimana saya bisa lebih mudah menjalankan amanah, lebih luas menjangkau masyarakat, dan lebih lancar dalam berdakwah.

Hati saya benar-benar terharu.

Saya membatin, betapa luas hati seorang ulama. Bahkan ketika dirinya sendiri sedang diuji sakit, pikirannya tetap dipenuhi harapan-harapan baik untuk orang lain.

Waktu terasa berjalan cepat. Tanpa terasa, langit semakin redup dan suasana petang mulai menyelimuti halaman Masjid An-Nahdla. Kami masih bercengkerama tentang berbagai hal; tentang kehidupan, perjuangan, dan pentingnya menjaga keikhlasan dalam berkhidmah.

Tiba-tiba Mbah Hasyim memandang ke arah langit lalu menoleh kepada saya.

“Ndang mantuk, wes ape magrib.”

(Segera pulang, sebentar lagi Magrib.)

Kalimat itu sederhana, tetapi terdengar begitu penuh perhatian. Seolah seorang ayah yang mengingatkan anaknya agar segera kembali ke rumah sebelum malam tiba.

Saya pun mengangguk pelan.

“Injeh Mbah,” jawab saya.

Dengan hati yang sebenarnya masih berat untuk berpisah, saya kembali mencium tangan beliau dan berpamitan. Ada perasaan enggan meninggalkan majelis sederhana itu, karena setiap detik bersama beliau terasa begitu berharga. Namun saya juga memahami bahwa nasihat beliau untuk segera pulang adalah bentuk kasih sayang dan perhatian yang tulus.

Sebelum saya melangkah pergi, Mbah Hasyim kembali mengangkat tangan dan mengucapkan doa singkat untuk keselamatan perjalanan saya. Saya mengamini dengan sepenuh hati.

Saya pun berjalan meninggalkan halaman masjid. Dari belakang, saya masih sempat menoleh sekali lagi. Sosok beliau tampak duduk tenang di serambi masjid, diterangi cahaya petang yang mulai meredup. Pemandangan itu terpatri kuat dalam ingatan saya.

Sepanjang perjalanan pulang, hati saya dipenuhi rasa syukur.

Saya bersyukur karena Allah masih mempertemukan saya dengan guru yang saleh.

Saya bersyukur karena masih dapat mendengar nasihat dan doa beliau secara langsung.

Dan saya bersyukur karena melalui pertemuan sederhana sore itu, saya kembali diingatkan bahwa kekuatan hidup sering kali datang dari tempat yang tidak kita sangka: dari doa tulus seorang ulama, dari perhatian seorang guru, dan dari kasih sayang yang Allah titipkan melalui orang-orang saleh di sekitar kita.

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga Mbah Hasyim Rosyidi, melimpahkan kesehatan dan keberkahan kepada beliau, serta menjadikan setiap doa dan nasihatnya sebagai cahaya yang terus menerangi langkah kami dalam menjalani kehidupan dan khidmah di jalan-Nya. Aamiin.