Kamis, 11 Juni 2026

"Kembali ke Almamater, Menjemput Takdir: Dari Bangku Mahasiswa Menuju Saksi Keunggulan Kampus Tercinta"


Sekitar sepekan yang lalu, telepon dari Bu Kaprodi HKI membuatku terdiam sejenak. Beliau menyampaikan sebuah permintaan yang bagiku bukan sekadar undangan biasa. Aku diminta menjadi salah satu perwakilan alumni Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) untuk mengikuti rangkaian Asesmen Akreditasi Prodi HKI UNUGIRI Bojonegoro.

Agak sedikit berpikir panjang, namun pada ahirnya aku menyatakan kesediaanku. Bagaimanapun, kampus ini bukanlah tempat yang asing bagiku. Di sinilah aku pernah menempuh perjalanan panjang menuntut ilmu sebagai mahasiswa S1. Banyak kenangan, perjuangan, dan doa yang pernah kutitipkan di setiap sudut kampus itu.

Hari Selasa, 2 Juni 2026, aku menghadiri briefing persiapan akreditasi di kampus tercinta. Saat memasuki Gedung Rektorat, hatiku seolah diajak kembali menelusuri lorong waktu. Langkah demi langkah yang dulu kulalui sebagai mahasiswa kini kulewati sebagai seorang alumni.

Sesampainya di lokasi, Bu Hana (Ibu Kaprodi HKI) menyambutku dengan ramah dan langsung mengantarkanku menuju ruang rapat. Di dalam ruangan itu ternyata telah hadir banyak alumni dari berbagai angkatan serta para stakeholder yang akan terlibat dalam proses asesmen.

Aku memperhatikan satu per satu wajah yang hadir. Ada alumni-alumni senior yang telah sukses meniti karier di berbagai bidang. Sebagian menjadi praktisi hukum, sebagian mengabdi di instansi pemerintahan, dan sebagian lagi menjadi tokoh yang berkontribusi di tengah masyarakat.

Di tengah briefing tersebut, tim panitia akreditasi menjelaskan berbagai hal yang perlu dipersiapkan. Salah satu tugas yang harus kulaksanakan adalah memberikan gambaran kepada asesor mengenai kualitas Prodi HKI, keunggulan-keunggulannya, serta manfaat nyata yang kurasakan selama menjadi mahasiswa hingga menjalani kehidupan profesional saat ini.

Mendengar penjelasan itu, pikiranku melayang pada masa-masa kuliah dahulu. Ternyata ilmu yang dulu kupelajari tidak hanya berhenti di ruang kelas. Ia menjadi bekal yang terus menuntunku dalam menjalankan tugas sebagai pegawai teknis di KUA. Saat itulah aku menyadari bahwa menjadi alumni bukan sekadar pernah belajar di sebuah kampus, tetapi juga menjadi bukti hidup atas keberhasilan pendidikan yang diberikan kampus tersebut.

Selesai briefing, aku pulang dengan membawa satu tugas penting: mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi pertemuan dengan tim asesor keesokan harinya.


Pagi hari Rabu 3 Juni 2026, aku berangkat lebih awal dari biasanya. Aku ingin tiba lebih cepat agar dapat beristirahat sejenak dan menghadapi proses wawancara dengan kondisi yang prima.

Setibanya di kampus, suasana mulai ramai. Aku langsung menuju Gedung Rektorat. Di sana aku disambut hangat oleh Pak Anam, dosen yang dahulu pernah menjadi pembimbing skripsiku. Rasanya seperti bertemu kembali dengan keluarga lama yang telah lama tak bersua.

Tak lama kemudian aku bertemu dengan para alumni yang sehari sebelumnya hadir dalam briefing. Ada Pak Mutakin, seorang penghulu di KUA Bangilan Tuban yang penuh pengalaman. Ada Mas Amim Thobari, Mas Fauzan, dan Mas Afan, para lawyer muda yang sukses mengembangkan kariernya. Aku juga bertemu dengan Bapak Anamnulloh dari Kementerian Agama Kabupaten Bojonegoro yang hadir mewakili stakeholder.

Kami berbincang santai, saling bertukar cerita dan pengalaman hidup. Ruangan itu terasa hangat oleh kenangan dan persaudaraan. Tidak ada sekat jabatan ataupun profesi. Yang ada hanyalah ikatan yang sama sebagai keluarga besar HKI UNUGIRI.

Tak lama kemudian seorang dosen memanggil kami menuju ruang asesor. Jantungku mulai berdegup lebih cepat. Meski bukan pertama kali berbicara di depan orang lain, tetap saja ada rasa gugup ketika harus mewakili almamater di hadapan tim penilai.

Ketika memasuki ruangan, asesor menyambut kami dengan ramah. Mereka kemudian mulai mengajukan pertanyaan satu demi satu.

Aku mendapat kesempatan menjelaskan bagaimana ilmu yang diperoleh dari HKI sangat membantu pekerjaanku di KUA. Pak Mutakin menjelaskan manfaat pendidikan HKI dalam tugasnya sebagai penghulu. Sementara Mas Fauzan dan Mas Revanda memaparkan bagaimana bekal akademik dari HKI menjadi fondasi penting dalam profesi mereka sebagai advokat.

Setiap jawaban yang kami sampaikan bukanlah hasil hafalan. Itu adalah pengalaman nyata yang kami jalani sehari-hari. Kami berbicara bukan hanya sebagai alumni, tetapi sebagai saksi hidup bahwa ilmu yang diperoleh dari kampus benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.

Setelah sesi wawancara dianggap cukup, kami dipersilakan keluar ruangan.

Saat kembali ke luar, suasana berubah menjadi penuh kehangatan. Kami berbincang dengan para dosen, mengenang masa-masa kuliah, tertawa bersama, dan saling mendoakan kesuksesan. Seakan-akan hari itu bukan sekadar kegiatan akreditasi, melainkan sebuah reuni yang mempertemukan kembali orang-orang yang pernah berjalan di jalan perjuangan yang sama.

Di tengah kebersamaan itu, aku merasakan sebuah kebanggaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tidak semua alumni mendapat kesempatan untuk kembali berkontribusi secara langsung bagi kampus yang telah membesarkannya.

Aku menyadari bahwa sekecil apa pun peran yang kami lakukan hari itu, semuanya adalah bentuk bakti kepada almamater. Sebab kampus bukan hanya tempat mencari ijazah, tetapi juga tempat menempa karakter, memperluas wawasan, dan membentuk masa depan.

Menjelang sore, aku berpamitan dan kembali menuju tempat tugasku. Namun ada sesuatu yang berbeda saat meninggalkan kampus hari itu. Aku pulang bukan hanya membawa kenangan, melainkan juga rasa syukur yang mendalam.

Syukur karena pernah menjadi bagian dari keluarga besar HKI UNUGIRI.

Syukur karena dipertemukan kembali dengan para guru dan sahabat seperjuangan.

Dan syukur karena masih diberi kesempatan untuk memberikan sesuatu bagi kampus tercinta.

Dalam hati aku berdoa:

"Ya Allah, jadikan ikhtiar kecil kami ini sebagai amal kebaikan. Berikan kemajuan bagi UNUGIRI Bojonegoro, khususnya Program Studi Hukum Keluarga Islam. Limpahkan keberkahan kepada seluruh dosen, mahasiswa, alumni, dan pengelolanya. Dan semoga Prodi HKI memperoleh hasil terbaik serta meraih Akreditasi UNGGUL."

Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah kampus bukan hanya milik civitas akademik yang ada di dalamnya, tetapi juga menjadi kebanggaan seluruh alumni yang pernah tumbuh dan belajar di sana.


Sebuah Pelajaran yang Tak Tertulis di Ruang Kuliah

Dalam perjalanan pulang menuju kantor, pikiranku terus mengulang kejadian demi kejadian yang baru saja kulalui. Jalan yang kulewati terasa berbeda dari biasanya. Bukan karena pemandangannya berubah, melainkan karena hatiku sedang dipenuhi rasa syukur dan haru.

Aku teringat masa-masa ketika masih menjadi mahasiswa. Dulu aku sering datang ke kampus dengan membawa banyak harapan. Kadang harus berjuang membagi waktu antara kuliah, pekerjaan, organisasi, dan berbagai tanggung jawab lainnya. Ada saat-saat lelah, ada masa-masa sulit menyelesaikan tugas, bahkan ada waktu ketika aku merasa kemampuan diriku begitu terbatas.

Namun hari ini, ketika duduk di hadapan asesor sebagai alumni, aku menyadari bahwa setiap perjuangan itu ternyata tidak pernah sia-sia.

Allah telah mempertemukanku kembali dengan kampus ini dalam posisi yang berbeda. Jika dahulu aku datang sebagai pencari ilmu, hari ini aku hadir sebagai saksi atas manfaat ilmu yang pernah kuterima.

Aku juga belajar bahwa kesuksesan seseorang tidak selalu diukur dari jabatan atau gelar yang disandangnya. Ketika bertemu para alumni senior yang kini telah berhasil di bidangnya masing-masing, aku melihat satu kesamaan di antara mereka: kerendahan hati.

Meski memiliki profesi yang berbeda-beda, kami tetap duduk bersama, bercengkrama, saling menghormati, dan mengenang masa-masa sebagai mahasiswa. Tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih hebat. Semua kembali menjadi keluarga besar HKI yang pernah ditempa oleh guru-guru yang sama.

Di situlah aku memahami bahwa ilmu sejati bukan hanya melahirkan orang-orang pintar, tetapi juga melahirkan pribadi yang berakhlak dan bermanfaat.

Aku teringat sebuah pesan yang sering disampaikan para ulama:

"Ilmu yang berkah bukanlah ilmu yang hanya memenuhi kepala, tetapi ilmu yang mampu menerangi hati dan memberi manfaat bagi sesama."

Hari itu aku melihat sendiri bagaimana ilmu HKI telah mengantarkan para alumninya mengabdi di berbagai bidang. Ada yang menjadi penghulu, ada yang menjadi advokat, ada yang menjadi pegawai pemerintah, ada yang menjadi pendidik, dan banyak lagi yang mengabdikan dirinya untuk masyarakat.


Sore mulai menjelang ketika kendaraan yang kutumpangi semakin mendekati tempat kerjaku. Aku menatap langit dan tersenyum kecil.

Siapa sangka, seorang mahasiswa biasa yang dulu duduk di bangku kuliah dengan segala keterbatasannya, kini dapat kembali ke almamater sebagai bagian dari proses penting penentuan masa depan program studi.

Aku sadar, mungkin peranku tidak besar.

Mungkin apa yang kusampaikan kepada asesor hanya berlangsung beberapa menit.

Mungkin kontribusiku hanyalah setitik dibandingkan perjuangan para dosen yang bertahun-tahun membangun prodi ini.

Tetapi aku percaya, setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas tidak akan pernah sia-sia di sisi Allah SWT.

Karena itu, aku pulang dengan membawa satu keyakinan:

Bahwa kampus yang baik tidak hanya meluluskan mahasiswa, tetapi juga menumbuhkan keluarga besar yang saling menguatkan hingga bertahun-tahun kemudian.

Dan hari itu, aku merasakan kembali hangatnya keluarga besar HKI UNUGIRI Bojonegoro.

Semoga suatu saat nanti, ketika generasi berikutnya berdiri di tempat yang sama, mereka juga dapat berkata dengan bangga:

"Aku pernah belajar di sini. Aku pernah dibimbing oleh guru-guru hebat di sini. Dan aku pernah menjadi bagian dari perjalanan besar kampus ini."

Sebab sejatinya, kampus bukan hanya tempat kita menuntut ilmu.

Kampus adalah tempat di mana mimpi dibangun, karakter dibentuk, persahabatan dipertemukan, dan pengabdian kepada umat mulai ditanamkan.

Dan hari itu, aku kembali pulang dengan membawa satu pelajaran berharga:

Terkadang Allah mempertemukan kita kembali dengan masa lalu, bukan untuk bernostalgia semata, melainkan agar kita menyadari sejauh mana nikmat-Nya telah mengantarkan langkah-langkah kita hingga hari ini.

Rabu, 10 Juni 2026

"Di Ambang Magrib, di Serambi Masjid: Doa Mbah Hasyim yang Membuat Mataku Berkaca-kaca"

 

Margomulyo-Selasa, 9 Juni 2026. Siang itu, sekitar pukul 13.30 WIB, saya bersama beberapa rekan dari Kantor Urusan Agama (KUA) sedang menghadiri undangan di rumah Pak Uddin, salah satu teman kerja kami, yang berada di Dusun Bandung, Kalangan. Suasana desa terasa teduh selepas waktu Zuhur. Kami datang untuk memenuhi undangan tasyakuran keluarga besar Pak Uddin yang saat itu tengah bersyukur atas keberangkatan mertuanya yang akan menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci.

Bersamaan dengan acara tasyakuran tersebut, masyarakat setempat juga mengadakan tradisi “Nggemblang”, yang dalam istilah lain dapat dipahami sebagai sedekah bumi atau ungkapan rasa syukur atas nikmat dan keberkahan yang telah Allah limpahkan. Acara berlangsung sederhana namun penuh keakraban.

Selain para pegawai KUA, hadir pula rombongan guru-guru MI yang merupakan rekan kerja istri Pak Uddin. Ruangan utama rumah itu dipenuhi canda, tawa, dan obrolan ringan. Sebagaimana lazimnya acara Nggemblang, porsi terbesar kegiatan lebih banyak diisi dengan makan bersama dan berbincang santai mengenai berbagai hal keseharian; mulai dari pekerjaan, keluarga, hingga perkembangan masyarakat sekitar.

Di tengah riuh rendah percakapan dan suasana kekeluargaan yang hangat itu, tiba-tiba telepon genggam saya berdering. Nama yang muncul di layar membuat saya seketika terdiam dan menatap beberapa saat dengan rasa tak percaya.

Yang menelepon adalah seorang kiai sepuh yang sangat saya hormati, sosok alim yang namanya dikenal luas di kalangan masyarakat Bojonegoro bagian barat, khususnya Kecamatan Malo. Beliau adalah Kiai Hasyim Rosyidi, atau yang akrab kami panggil Mbah Hasyim.

Beberapa waktu terakhir, saya mendengar kabar bahwa beliau sedang mendapatkan ujian sakit. Karena itulah, ketika melihat namanya muncul di layar telepon, hati saya langsung dipenuhi rasa haru dan bahagia.

Saya segera mengangkat telepon tersebut.

“Assalamu’alaikum...”

Suara serak namun tetap penuh kewibawaan terdengar dari seberang sana. Meski kondisi kesehatan beliau sedang diuji, aura keteguhan seorang ulama tetap terasa jelas dari setiap kata yang diucapkan.

“Wa’alaikumussalam warahmah...” jawab saya spontan dengan nada sedikit gugup bercampur gembira.

Mendengar langsung suara beliau rasanya seperti mendapatkan energi baru. Setelah itu saya melanjutkan dengan penuh hormat,

“Injeh Mbah, wonten dawuh?”

(Iya Mbah, ada perintah apa?)

Dengan singkat beliau menjawab,

“Aku ape neng Masjid An-Nahdla.”

(Aku mau ke Masjid An-Nahdla.)

Saya yang belum memahami maksud lebih lanjut segera menjawab,

“Oooh... Injeh Mbah, sumonggo.”

(Oooh iya Mbah, silakan.)

Belum sempat saya berkata banyak, Mbah Hasyim kembali melanjutkan dengan nada khas beliau yang tegas namun penuh kasih sayang.

“Maksudte awakmu ya merapat mrene.”

(Maksudnya dirimu juga harus ke sini.)

Seketika saya memahami maksud beliau. Ternyata bukan sekadar memberi kabar bahwa beliau akan ke Masjid An-Nahdla, tetapi juga menghendaki saya untuk hadir dan menemuinya di sana.

Tanpa berpikir panjang saya langsung menjawab,

“Ooooh... Injeh Mbah, siap.”

Di saat itu pula hati saya bergetar. Bukan karena merasa mendapat perintah dari seorang ulama besar, tetapi karena saya merasakan sebuah kehormatan yang tidak setiap hari datang. Di tengah kondisi kesehatan beliau yang sedang menurun, ternyata Mbah Hasyim masih berkenan mengingat dan memanggil saya untuk hadir menemuinya.


Sekitar satu jam kemudian, acara di rumah Pak Udin pun berakhir. Saya pun berpamitan kepada rekan-rekan yang masih menikmati suasana Nggemblang di rumah Pak Uddin. Para tamu mulai berpamitan satu per satu. Saya bersama rombongan dari KUA kemudian kembali menuju kantor. Sepanjang perjalanan, pikiran saya sesekali melayang pada panggilan telepon dari Mbah Hasyim tadi siang. Ada rasa penasaran sekaligus bahagia karena sebentar lagi saya akan bertemu langsung dengan beliau.

Sesampainya di KUA, hari sudah beranjak sore. Aktivitas kantor mulai mereda. Sebagian pegawai menyelesaikan pekerjaan terakhir sebelum pulang. Setelah melakukan absensi pulang dan menuntaskan beberapa urusan ringan, saya berpamitan kepada Bapak Kepala KUA serta teman-teman kantor.

“Assalamu’alaikum, saya izin dulu,” ucap saya singkat.

“Wa’alaikumussalam, monggo,” jawab mereka.

Begitu keluar dari kantor, saya tidak langsung pulang ke rumah. Amanah dari Mbah Hasyim yang disampaikan melalui telepon siang tadi masih terngiang jelas di telinga. Saya pun segera mengarahkan kendaraan menuju Masjid An-Nahdla Sumberjo. 

Dalam perjalanan menuju Masjid An-Nahdla, pikiran saya dipenuhi berbagai kenangan tentang nasihat, wejangan, dan keteladanan Mbah Hasyim yang selama ini menjadi pelita bagi banyak orang.

Perjalanan menuju masjid sore itu terasa berbeda. Ada rasa rindu, hormat, sekaligus harapan agar Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan dan keberkahan umur kepada beliau. Sebab bagi masyarakat, keberadaan seorang ulama bukan hanya sebagai guru agama, melainkan juga sebagai penuntun hati dan penjaga nilai-nilai kebaikan di tengah kehidupan.

Panggilan sederhana melalui telepon siang itu akhirnya menjadi sebuah momen yang sangat berkesan dalam hidup saya. Sebuah panggilan yang bukan sekadar ajakan untuk datang ke masjid, melainkan pengingat bahwa hubungan murid dengan guru, santri dengan kiai, tidak hanya terjalin melalui majelis ilmu, tetapi juga melalui rasa hormat, mahabbah, dan keberkahan doa yang mengalir di antara keduanya.

Dan siang itu, saya merasa menjadi orang yang sangat beruntung karena mendapat kesempatan untuk kembali kepanggih Mbah Hasyim di Masjid An-Nahdla. Sebuah pertemuan sederhana yang nilainya jauh melampaui kata-kata.

Sore itu suasana jalanan tidak terlalu ramai. Langit mulai berubah warna, perlahan meninggalkan terik siang menuju kesejukan petang. Di sepanjang perjalanan, hati saya dipenuhi berbagai perasaan. Saya teringat kondisi kesehatan Mbah Hasyim yang dalam setahun terakhir sedang mendapat ujian sakit. Karena itulah pertemuan ini terasa begitu berharga.

Sesampainya di halaman Masjid An-Nahdla, suasana tampak tenang. Beberapa jamaah terlihat lalu-lalang, sementara sebagian lainnya sedang duduk santai di serambi masjid. Saya memarkir kendaraan lalu melangkah masuk dengan perasaan penuh hormat.

Belum jauh melangkah, pandangan saya langsung tertuju pada sosok yang saya cari.

Di salah satu bagian serambi masjid, tampak Mbah Hasyim duduk bersandar dengan tenang. Wajah beliau terlihat lebih kurus dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, namun pancaran kewibawaan dan keteduhan seorang ulama masih sangat jelas terlihat. Sorot matanya tetap tajam, sementara senyumnya tetap menghadirkan rasa tenteram bagi siapa saja yang memandang.

Saya segera menghampiri beliau.

"Sugeng sonten, Mbah..." ucap saya sembari menundukkan badan dan mencium tangan beliau penuh takzim.

Mbah Hasyim menyambut dengan senyum yang hangat.

"Nggih, alhamdulillah awakmu teko," kata beliau pelan.

(Iya, alhamdulillah kamu datang.)

Mendengar kalimat sederhana itu, hati saya terasa hangat. Rasanya seperti seorang anak yang disambut oleh orang tuanya setelah lama tidak bertemu.

Saya kemudian duduk di samping beliau. Kami berbincang santai. Sesekali beliau bertanya tentang keadaan kantor KUA, MWCNU Margomulyo, kegiatan masyarakat, kondisi para kiai dan tokoh agama yang beliau kenal, serta perkembangan dakwah di wilayah Margomulyo dan sekitarnya.

Meski kondisi fisik beliau tidak sekuat dahulu, saya melihat semangat beliau dalam memikirkan umat tidak pernah berkurang sedikit pun. Yang keluar dari lisan beliau bukan keluhan tentang sakit yang diderita, melainkan pertanyaan-pertanyaan tentang kemaslahatan masyarakat dan perkembangan perjuangan agama.

Saat itulah saya kembali menyadari bahwa para ulama sejati memang berbeda. Ketika kebanyakan orang sibuk memikirkan dirinya sendiri saat sakit, mereka justru tetap memikirkan umat dan masa depan dakwah.

Di sela-sela percakapan, Mbah Hasyim beberapa kali menyampaikan nasihat yang sederhana tetapi sangat dalam maknanya. Beliau mengingatkan pentingnya menjaga keikhlasan dalam berkhidmah, tidak mudah lelah melayani masyarakat, serta terus merawat hubungan baik dengan para ulama dan sesama pejuang agama.

Petang semakin larut. Cahaya matahari yang masuk dari sela-sela bangunan masjid mulai memudar. Namun saya merasa waktu berjalan begitu cepat. Setiap kalimat yang keluar dari lisan beliau terasa seperti mutiara hikmah yang sayang untuk dilewatkan.

Dalam hati saya bersyukur kepada Allah SWT. Andaikan siang tadi saya mengabaikan panggilan telepon beliau, tentu saya akan kehilangan kesempatan berharga ini. Kesempatan untuk duduk bersimpuh di hadapan seorang ulama, mendengarkan nasihatnya secara langsung, dan merasakan keberkahan majelis yang sederhana namun penuh makna.

Sore itu saya memahami satu hal: terkadang Allah menghadirkan panggilan-panggilan kecil dalam hidup kita, tetapi di baliknya tersimpan pelajaran yang besar. Dan panggilan Mbah Hasyim menuju Masjid An-Nahdla hari itu menjadi salah satu momen yang akan selalu saya kenang sepanjang hidup. Sebuah pertemuan yang mengajarkan tentang adab kepada guru, pentingnya menyambung silaturahim, serta keberkahan yang Allah titipkan melalui para ulama-Nya.


Kami duduk bersama di serambi masjid. Percakapan mengalir begitu saja. Saling bertanya kabar, bertukar cerita, dan mengenang berbagai peristiwa yang pernah kami lalui.

Yang paling membekas bagi saya sore itu adalah betapa banyak doa yang beliau panjatkan untuk saya.

Beberapa kali beliau mengangkat tangan sambil mengucapkan doa-doa yang tulus. Beliau mendoakan kesehatan, keselamatan, kemudahan urusan, keberkahan keluarga, serta keberhasilan dalam menjalankan amanah yang sedang saya emban.

Saya hanya bisa mengamini dengan hati yang bergetar.

Bagi sebagian orang, doa mungkin hanya rangkaian kata-kata. Namun bagi saya, doa seorang ulama yang saleh adalah hadiah yang nilainya tak dapat diukur dengan apa pun.

Sebab saya tahu, Mbah Hasyim bukan hanya seorang kiai yang saya hormati. Beliau adalah salah satu sosok yang pernah menjadi penguat jiwa saya pada masa-masa yang cukup berat.

Pikiran saya kemudian melayang pada sekitar tahun 2024.

Saat itu saya sedang menghadapi sebuah persoalan yang cukup menguras pikiran dan perasaan. Sebuah masalah yang pada hakikatnya mungkin tidak layak disebut masalah. Namun begitulah kehidupan. Terkadang sesuatu yang kecil dapat terasa begitu besar ketika hati sedang lelah. Terkadang sesuatu yang sederhana dapat menjadi begitu rumit karena penilaian manusia.

Pada masa itu, saya sempat merasa kecewa, bingung, bahkan mempertanyakan banyak hal. Ada saat-saat di mana saya merasa berjalan sendirian. Ada masa ketika penjelasan yang benar tidak selalu diterima dengan benar, dan niat baik tidak selalu dipahami sebagaimana mestinya.

Namun di tengah keadaan itu, Allah menghadirkan beberapa orang yang menjadi penopang semangat. Salah satunya adalah Mbah Hasyim.

Beliau tidak banyak memberikan ceramah panjang. Tidak pula memberikan teori-teori yang rumit.

Dengan kebijaksanaan seorang ulama yang telah kenyang pengalaman hidup, beliau hanya berkata dengan kalimat-kalimat sederhana yang hingga hari ini masih saya ingat.

Beliau mengingatkan bahwa tidak semua yang kita hadapi harus dilawan. Tidak semua yang dibicarakan orang harus dijawab. Dan tidak semua ujian harus membuat kita berhenti melangkah.

"Sing penting awakmu bener lan istiqamah. Wong urip kuwi ora bakal uwal saka omongane uwong."

(Yang penting kamu benar dan istiqamah. Orang hidup itu tidak akan pernah lepas dari omongan manusia.)

Nasihat itu sederhana.

Tetapi justru kesederhanaan itulah yang menembus hati saya.

Beliau mengajarkan bahwa kehormatan seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya pujian manusia, melainkan oleh sejauh mana ia tetap teguh berada di jalan yang benar ketika diuji oleh keadaan.

Karena itulah, ketika sore itu saya duduk kembali di samping beliau di Masjid An-Nahdla, saya merasa sedang bertemu bukan hanya dengan seorang kiai, tetapi juga dengan seorang guru kehidupan.

Seorang guru yang pernah hadir di saat saya membutuhkan penguatan.

Seorang guru yang dengan doa dan nasihatnya membantu saya melihat masalah secara lebih jernih.

Dan kini, di tengah kondisi beliau yang sedang diuji sakit, justru beliau masih menyempatkan diri memanggil, menyambut, dan mendoakan saya.

Saat itulah saya semakin memahami bahwa kemuliaan seorang ulama tidak hanya tampak dari ilmunya, tetapi juga dari keluasan hatinya. Meskipun beliau sendiri sedang menanggung ujian, perhatian dan kasih sayangnya kepada orang lain tidak pernah berkurang.

Sore itu di halaman Masjid An-Nahdla, saya merasakan kembali pelajaran yang selama ini sering terlupakan: bahwa kekuatan terbesar dalam hidup bukanlah jabatan, harta, ataupun kedudukan, melainkan keberadaan guru-guru saleh yang dengan tulus mendoakan kita dalam diam.

Dan saya bersyukur, Allah masih mempertemukan saya dengan salah satu di antaranya: Mbah Hasyim Rosyidi. Sebuah pertemuan yang sederhana, namun meninggalkan jejak yang sangat dalam di relung hati saya.

Ngilu rasanya jika mengingat masa-masa itu.

Saat hidup terasa berada pada titik yang paling berat. Saat pikiran dipenuhi berbagai pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban. Saat langkah terasa tertahan oleh keadaan yang seolah datang bertubi-tubi. Bahkan terkadang saya merasa seakan semua jalan keluar telah tertutup rapat di hadapan saya.

Di masa seperti itulah seseorang sering diuji, bukan hanya oleh persoalan yang dihadapi, tetapi juga oleh dirinya sendiri. Antara yakin dan ragu. Antara kuat dan lemah. Antara pasrah dan putus asa. Semuanya bercampur menjadi satu warna yang sulit dibedakan.

Pada saat itulah Allah menghadirkan Mbah Hasyim.

Beliau datang bukan membawa solusi-instans, bukan pula membawa kekuatan duniawi yang mampu mengubah keadaan dalam sekejap. Namun beliau membawa sesuatu yang jauh lebih berharga: kabar gembira tentang rahmat Allah.

Beliau mengingatkan saya bahwa rahmat Allah tidak pernah berhenti menyapa hamba-hamba-Nya.

Bahwa sesulit apa pun keadaan, pintu pertolongan Allah tidak pernah benar-benar tertutup.

Bahwa setiap kesempitan selalu menyimpan keluasan yang belum tampak.

Dan bahwa setiap ujian sesungguhnya adalah cara Allah mendidik hamba-Nya agar naik ke derajat yang lebih baik.

Sering kali yang dibutuhkan seseorang bukanlah banyaknya nasihat, melainkan hadirnya seseorang yang mampu membuatnya kembali percaya kepada kasih sayang Allah. Dan bagi saya, pada masa itu, Mbah Hasyim adalah salah satu sosok yang Allah kirimkan untuk tujuan tersebut.

Ketika warna kehidupan terasa kabur, ketika batas antara pasrah dan putus asa seakan tidak lagi terlihat jelas, Mbah Hasyim hadir memberi warna yang nyata.

Beliau mengajarkan bahwa pasrah bukan berarti menyerah.

Beliau mengingatkan bahwa sabar bukan berarti diam tanpa usaha.

Beliau meneguhkan bahwa setiap orang yang berjuang di jalan khidmah pasti akan diuji sesuai kadar amanah yang dipikulnya.

Nasihat-nasihat beliau mungkin terdengar sederhana. Namun dari lisan seorang alim yang mengamalkan ilmunya, kata-kata sederhana itu memiliki daya hidup yang luar biasa. Ia mampu menguatkan hati yang rapuh, menenangkan pikiran yang kusut, dan menghidupkan kembali harapan yang hampir padam.

Karena itulah, ketika sore itu saya kembali duduk bersama beliau di Masjid An-Nahdla, yang saya lihat bukan hanya seorang kiai sepuh yang sedang diuji sakit. Saya melihat seorang guru yang pernah menjadi sebab Allah menguatkan hati saya.

Saya melihat seorang mursyid kehidupan yang dengan kelembutan tutur katanya telah membantu saya melewati fase-fase yang tidak mudah.

Dan saya menyadari, mungkin saya tidak akan pernah mampu menghitung satu per satu kebaikan beliau kepada saya. Sebab sebagian besar jasa seorang guru memang tidak tercatat dalam angka dan tulisan. Ia tersimpan dalam perubahan cara berpikir, dalam keteguhan langkah, dan dalam semangat yang kembali tumbuh setelah hampir layu.

Itulah sepintas kisah yang dapat saya ceritakan dari sekian banyak peran Mbah Hasyim dalam mewarnai perjalanan hidup saya.

Beliau bukan hanya memberi nasihat ketika diminta.

Beliau bukan hanya hadir saat keadaan lapang.

Tetapi beliau hadir ketika hati sedang membutuhkan penguat.

Beliau hadir ketika harapan mulai redup.

Beliau hadir membawa pesan bahwa Allah masih ada, rahmat-Nya masih terbuka, dan masa depan masih menyimpan banyak kemungkinan baik yang belum terlihat oleh mata manusia.

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, keberkahan umur, dan kemuliaan kepada Mbah Hasyim Rosyidi. Dan apabila kelak Allah memanggil beliau menghadap-Nya, semoga segala ilmu, nasihat, doa, dan keteladanan yang telah beliau wariskan menjadi amal jariyah yang terus mengalir tanpa putus.

Karena sesungguhnya, orang-orang seperti Mbah Hasyim adalah lentera kehidupan. Mereka tidak selalu berada di depan kita setiap hari, tetapi cahaya yang mereka tinggalkan akan terus menerangi perjalanan banyak orang, bahkan setelah mereka melangkah jauh meninggalkan dunia ini.


اللَّهُمَّ احْفَظْ مَشَايِخَنَا وَعُلَمَاءَنَا، وَبَارِكْ فِي أَعْمَارِهِمْ وَعِلْمِهِمْ وَدَعْوَتِهِمْ. آمِيْن.


"Ya Allah, jagalah para guru dan ulama kami, limpahkan keberkahan pada umur, ilmu, dan dakwah mereka. Amin."

Hari itu, Mbah Hasyim kembali menyapa saya dengan kehangatan yang sama seperti dulu. Setelah kami cukup lama berbincang, beliau kembali menengadahkan tangan dan memanjatkan doa-doa terbaik untuk saya. Salah satu doa yang paling membekas di hati saya adalah ketika beliau mendoakan agar saya segera diberi rezeki memiliki mobil sebagai sarana untuk memperlancar kegiatan dakwah dan khidmah yang saya jalani.

Saya hanya terdiam.

Mata saya mulai berkaca-kaca.

Bukan semata karena doa tentang kendaraan itu, tetapi karena saya merasakan ketulusan yang begitu dalam dari seorang guru kepada muridnya. Di tengah kondisi beliau yang belum sepenuhnya sehat, Mbah Hasyim masih memikirkan kemanfaatan hidup orang lain. Beliau masih memikirkan bagaimana saya bisa lebih mudah menjalankan amanah, lebih luas menjangkau masyarakat, dan lebih lancar dalam berdakwah.

Hati saya benar-benar terharu.

Saya membatin, betapa luas hati seorang ulama. Bahkan ketika dirinya sendiri sedang diuji sakit, pikirannya tetap dipenuhi harapan-harapan baik untuk orang lain.

Waktu terasa berjalan cepat. Tanpa terasa, langit semakin redup dan suasana petang mulai menyelimuti halaman Masjid An-Nahdla. Kami masih bercengkerama tentang berbagai hal; tentang kehidupan, perjuangan, dan pentingnya menjaga keikhlasan dalam berkhidmah.

Tiba-tiba Mbah Hasyim memandang ke arah langit lalu menoleh kepada saya.

“Ndang mantuk, wes ape magrib.”

(Segera pulang, sebentar lagi Magrib.)

Kalimat itu sederhana, tetapi terdengar begitu penuh perhatian. Seolah seorang ayah yang mengingatkan anaknya agar segera kembali ke rumah sebelum malam tiba.

Saya pun mengangguk pelan.

“Injeh Mbah,” jawab saya.

Dengan hati yang sebenarnya masih berat untuk berpisah, saya kembali mencium tangan beliau dan berpamitan. Ada perasaan enggan meninggalkan majelis sederhana itu, karena setiap detik bersama beliau terasa begitu berharga. Namun saya juga memahami bahwa nasihat beliau untuk segera pulang adalah bentuk kasih sayang dan perhatian yang tulus.

Sebelum saya melangkah pergi, Mbah Hasyim kembali mengangkat tangan dan mengucapkan doa singkat untuk keselamatan perjalanan saya. Saya mengamini dengan sepenuh hati.

Saya pun berjalan meninggalkan halaman masjid. Dari belakang, saya masih sempat menoleh sekali lagi. Sosok beliau tampak duduk tenang di serambi masjid, diterangi cahaya petang yang mulai meredup. Pemandangan itu terpatri kuat dalam ingatan saya.

Sepanjang perjalanan pulang, hati saya dipenuhi rasa syukur.

Saya bersyukur karena Allah masih mempertemukan saya dengan guru yang saleh.

Saya bersyukur karena masih dapat mendengar nasihat dan doa beliau secara langsung.

Dan saya bersyukur karena melalui pertemuan sederhana sore itu, saya kembali diingatkan bahwa kekuatan hidup sering kali datang dari tempat yang tidak kita sangka: dari doa tulus seorang ulama, dari perhatian seorang guru, dan dari kasih sayang yang Allah titipkan melalui orang-orang saleh di sekitar kita.

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga Mbah Hasyim Rosyidi, melimpahkan kesehatan dan keberkahan kepada beliau, serta menjadikan setiap doa dan nasihatnya sebagai cahaya yang terus menerangi langkah kami dalam menjalani kehidupan dan khidmah di jalan-Nya. Aamiin.

Kamis, 24 Juli 2025

Syahdu Pagi dan Sebotol BBM: Kisah di Tengah Jalan Menuju Tanjung Harapan

 
Kang Lamin datang memberikan pertolongan BBM

Margomulyo - 24 Juli 2025, Pagi itu seperti biasa, rutinitas menyambut hari dimulai dengan senyum istri tercinta yang dengan cekatan sudah menyiapkan semua perlengkapan kerjaku. Dari tas, HP, Dompet hingga bekal semangat, semuanya terasa lengkap. Setelah memastikan semuanya siap, aku pun berangkat meskipun, yah… agak sedikit telat. Jam sudah menunjukkan pukul 06.45 ketika akhirnya aku melaju dari rumah.

Biasanya, di tengah perjalanan aku sempatkan mampir isi BBM di warung langganan. Tapi kali ini karena merasa sudah agak kesiangan, aku tancap gas sambil berkata dalam hati, “Ah… nanti saja isinya, masih cukup lah.”

Di sepanjang jalan, udara pagi begitu segar, cahaya mentari menembus sela-sela pepohonan, dan suara alam berpadu merdu dengan lirih sholawat Nabi yang ku lantunkan pelan dari balik helm. Rasanya damai… syahdu… seperti pagi di film-film religi.

Hutan yang kulalui pun tampak menawan. Pohon-pohon hasil penebangan masa lalu mulai menumbuhkan harapan baru, menghijau lagi di sisi kanan kiri jalan. Tapi sayangnya, ketenangan itu tak berlangsung lama…

“Det… det… det…” suara motorku tiba-tiba menjadi aneh.

Gas kuputar, tapi motorku melambat. Dan akhirnya… terhenti.

“Yaaah…” desahku pasrah.

Ternyata benar. Aku kehabisan BBM di tengah jalan. Dan lebih dramatis lagi, lokasi tepatnya: sebelah barat pertigaan menuju Dusun Matar. Di sana cuma ada sunyi, pohon, dan burung-burung yang tak bisa kupanggil minta bantuan.

Kepanikan kecil pun muncul. Aku coba menghubungi beberapa teman. Pertama Pak Paniran, tapi sinyalnya kalah sama daun jati. Kemudian aku coba telepon Kang Lamin yang rumahnya tak terlalu jauh dari lokasi.

Alhamdulillah, sinyal berpihak padaku. Telepon tersambung.

Tak butuh waktu lama, dari kejauhan muncul sosok penyelamat pagi itu: Kang Lamin. Ia datang membawa sebotol BBM seperti pahlawan dalam film laga, bedanya, alih-alih pedang, yang dibawanya adalah botol ijo transparan berisi bahan bakar penuh harapan!

Kami pun tertawa, terutama aku yang tadi sudah sempat panik, kini malah merasa seperti sedang syuting episode “Petualangan Tak Terduga di Jalan Sepi”.

“Terimakasih Kang Lamin,” ucapku tulus, sambil menyambar botol penuh berkah itu.

Dengan wajah tenang tapi sedikit geli, Kang Lamin menjawab, “Nek wes ngerti telat, ya ojo lali isi bensin disek, Kang…”

Kami pun tertawa bersama di tengah hutan yang perlahan mulai riuh oleh suara motor yang kembali menyala. Alhamdulillah… diriku tertolong.

Pagi yang tadinya nyaris menjadi cerita sedih, berubah menjadi kisah syahdu dengan sentuhan humor, berkat sebotol BBM dan kehadiran Kang Lamin, sahabat sejati di tengah perjalanan hidup yang tak selalu mulus.


Catatan: Kalau besok-besok telat lagi, pastikan isi BBM dulu… atau sekalian ajak istri ikut, biar bisa bantu dorong. 😄

Jumat, 27 Juni 2025

Jejak yang Dibersihkan, Langkah yang Dikuatkan: Kelanjutan Kisah NIK yang Tercatut



Setelah perjuangan panjang yang penuh ketidakpastian, langkahku mulai menapaki jalan terang. Meski pihak pengurus partai tempat namaku tercatut telah berusaha menyelesaikan administrasi, bagiku semua terasa begitu lamban. Sementara hari-hari terus berlalu dengan hati yang tak pernah tenang. Aku tahu mereka sudah mencoba maksimal, tapi sebagai korban, waktu menjadi seperti cambuk bagi kegelisahan batinku.

Puncaknya adalah saat aku memutuskan untuk ikut Mujahadah di malam 10 November 2024, bertempat di Kantor PBNU Pertama, Jalan Bubutan, Surabaya. Dalam suasana yang penuh khidmat itu, kularut dalam lantunan doa bersama orang-orang sholih yang bahkan tak kukenal, namun terasa begitu dekat. Tapi jiwaku bergemuruh. Tangis yang kutahan akhirnya luruh, mengalir bersama doa yang kupanjatkan dalam kesendirian spiritual. Aku pasrah, aku lelah, tapi aku percaya bahwa Allah selalu melihat mereka yang terzalimi.

Selepas acara, aku mencoba kembali menghubungi pengurus partai yang sebelumnya berjanji akan menyelesaikan semuanya malam itu juga. Dan benar saja—tepat pukul 00.00 WIB, dengan tangan gemetar dan hati penuh harap, kubuka laman resmi KPU. Perlahan kuarahkan pandangan ke kolom daftar nama yang sebelumnya menyudutkanku. Dan... namaku sudah tidak ada lagi di sana. Tak bisa kutahan rasa syukur itu. Dalam diam, aku bersujud, menangis—bukan karena sedih, tapi karena Allah benar-benar menolongku di waktu yang paling indah: saat segalanya terasa hampir mustahil.

Pagi harinya, sebuah surat resmi dari partai itu akhirnya kukantongi. Surat pernyataan bahwa aku telah resmi keluar dan tidak pernah mengajukan keanggotaan sebelumnya. Rasa lega menyelimuti seluruh jiwaku. Beban yang selama ini menghimpit akhirnya mulai terangkat satu demi satu.

Dan belum genap sehari sejak surat itu kuterima, kabar baik berikutnya datang menyambut. Bak gayung bersambut, berkas-berkas yang sebelumnya kuunggah ke situs BKN untuk seleksi Tes P3K, akhirnya dinyatakan LOLOS VERIFIKASI. Notifikasi itu muncul begitu sederhana, tapi dampaknya luar biasa: “Anda memenuhi syarat dan berhak mengikuti tahapan seleksi berikutnya.”

Tanpa berpikir panjang, aku langsung pulang dan mencari Ibukku. Di pojok rumah, beliau sedang menata barang-barang lama. Aku hampiri dan menatap wajahnya dengan mata yang mulai berkaca. “Buk... aku lolos verifikasi. Aku bisa ikut tes P3K…”

Ibuku menoleh perlahan, lalu menunduk sembari mengucap, “Alhamdulillah… alhamdulillah, nak…” Hanya itu, namun di pelukannya aku merasa seluruh perjuangan ini mendapatkan restu dari langit.

Lalu aku temui istriku. Saat kusampaikan kabar itu, ia tersenyum penuh haru dan memelukku erat. “Perjuanganmu tidak sia-sia, Mas…” ucapnya. Pelukannya seolah menjadi penguat baru untuk langkah panjang yang menanti.

Tak lupa, kabar baik ini juga kubagikan kepada teman-teman seperjuangan—mereka yang selama ini selalu hadir memberi simpati, mendengarkan, dan menyemangati. Salah satu pesan spesial kukirim kepada Bapak Kepala KUA Margomulyo, yang selama ini menjadi saksi langsung atas tekanan dan kegelisahan yang kualami. Beliau membalas dengan doa dan dukungan tulus.

Hari itu, dunia terasa lebih bersahabat. Segala perjuangan, tangis, dan doa selama ini mulai menemukan titik terang. Perjalananku masih panjang, tapi kali ini, aku tahu: aku melangkah dengan lebih ringan, dengan restu, cinta, dan keberkahan yang membersamai.


Baca Kisah Sebelumnya                                       Bersambung

Rabu, 27 November 2024

Saat Pulung belum Pulang, Maka Fajar Mulai Menyerang: Drama PILKADA Di Konoha

Gambar hanya Pemanis canda

Di sebuah desa kecil bernama Desa Sukabohong, suasana Pilkada 2024 begitu menggema. Bukan karena visi-misi calon yang menggelegar, tapi karena drama kocak yang tiap hari bisa jadi sinetron.

Bagi-bagi Kaos dan Sembako Sakti
"Eh, pak RT kemarin dapet apa?" tanya Bu Nanik, sambil menjemur cucian.
Pak RT tersenyum lebar sambil menunjuk kaos merah dengan tulisan: Maju Bersama Calon No. 65, Hidup Bahagia.
"Kaos aja, Bu. Sama janji pengaspalan jalan... padahal jalan desa ini masih dari zaman Belanda!"

Bu Nanik tak mau kalah, "Lha, saya malah dapet sembako dari tim lawan, Calon No. 17. Berasnya premium, minyaknya Bimoli, sampe ada bonus gula tiga kilo!"

Tiba-tiba, Pak Udin ikut nimbrung. "Ah, kalian itu kecil. Saya kemarin dapet pulsa 50 ribu sama kupon undian motor dari tim Calon No. 9! Mereka katanya mau bikin jembatan gantung di kali belakang rumah saya. Masalahnya, di sana nggak ada kali, Pak!"

Begadang Demi Pulung
Yang paling seru adalah cerita Pulung. Pulung ini bukan orang, tapi istilah lokal untuk uang pelicin. Kata orang, siapa yang kuat begadang di posko paslon sampai pagi, pulung bakal turun dari langit seperti wangsit.

Pak Karto, kepala keamanan desa, cerita dengan mata merah akibat kurang tidur, "Saya tiga malam nggak tidur demi Pulung, Mas. Lha, katanya kalau tim sukses suka sama loyalitas kita, pagi-pagi langsung dibagi amplop tebal."

Bu Lastri, yang biasa jual gorengan, ikut menimpali, "Pak Karto ini polos, pulung itu mitos! Lihat tuh, Pak Darno, yang tiap malam begadang sama, ujung-ujungnya cuma dapet kopi sachet lima biji. Gimana, nggak balik modal dia?"

Pak Darno, yang kebetulan lewat, nyengir pahit. "Cuman kopi lima, Bu. Padahal udah seminggu saya nggak ngojek demi posko. Nggak ada tanda-tanda amplop, malah dapet maag!"

Janji Kampanye yang Ajaib
Para calon makin kreatif bikin janji kampanye. Ada yang janji bikin internet gratis di semua rumah, meskipun listrik di desa ini sering mati tiap hujan deras.

Calon lainnya janji bikin sekolah internasional ber-AC, meski sekolah dasar saja atapnya masih bocor. Yang paling heboh, Calon No. 9 janji bikin pantai buatan lengkap dengan pasir putih dan jet ski, padahal desa ini letaknya di tengah sawah!

"Saya yakin desa kita bisa jadi desa wisata kelas dunia," kata calon itu dengan meyakinkan di depan warga. Tapi warga cuma saling pandang, bertanya-tanya apakah calon itu sedang halusinasi atau memang kebanyakan nonton drama Korea.

Hari Pemilihan: Drama Tanpa Akhir
Tibalah hari pemilihan. TPS penuh drama. Ada warga yang datang pakai baju adat sebagai bentuk dukungan pada paslon tertentu. Ada juga yang bawa handphone dengan harapan selfie di bilik suara untuk bukti “pekerjaan” demi tambahan pulsa dari tim sukses.

Pak Karto terlihat gagah dengan kaos tiga lapis: kaos Calon No. 65, ditumpuk kaos Calon No. 17, dan jaket Calon No. 9. "Jaga netralitas, Mas. Yang penting pulung lancar," katanya sambil mengedipkan mata.

Di akhir cerita, siapa pun yang menang, drama Pulung dan kampanye ajaib ini selalu jadi pengingat bahwa Pilkada di Konoha lebih seperti festival komedi daripada proses demokrasi. Toh, siapa peduli siapa yang menang? Yang penting, janji pantai buatan jangan lupa, ya! 😄

 

Pulungnya Belum Pulang

Hari demi hari berlalu, tapi yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang: Pulung, si uang pelicin, masih misterius keberadaannya. Warga Desa Sukabohong mulai resah. Bahkan ada yang bikin teori konspirasi.

Pak Karto, yang sudah begadang dua minggu, menghela napas panjang. "Kayaknya pulungnya nyasar ke desa sebelah. Itu Desa Makmur katanya dapet berkarung-karung beras dan amplop, kok kita nggak dapet apa-apa?"

Bu Nanik, yang mulai kehilangan harapan, nyeletuk, "Mungkin pulungnya takut ke sini, Pak. Desa ini kan terkenal dengan banyaknya tuyul. Jangan-jangan amplopnya udah hilang duluan!"

Fenomena Lima Tahunan: Si Fajar

Sambil menunggu pulung yang tak kunjung pulang, muncul fenomena lain yang bikin desa heboh: Si Fajar. Kalau biasanya hilal jadi perbincangan setahun sekali menjelang Ramadan, Fajar ini datang lima tahunan, pas musim Pilkada.

"Siapa sih Fajar ini, kok tiba-tiba viral?" tanya Pak Udin penasaran.

Pak Darno, yang selalu mengaku update soal gosip politik, menjelaskan dengan gaya detektif, "Fajar itu julukan buat orang yang suka nyerang pas musim kampanye. Di mana ada perdebatan soal calon, di situ ada Fajar nyeruduk."

Bu Lastri ikut nimbrung, "Oh, itu yang suka nulis komentar pedas di grup WA desa, ya? Kalo ada yang beda pendapat, langsung dituduh antek lawan!"

Pak Darno mengangguk. "Betul, Bu. Dia itu kayak superhero, tapi kebalik. Super-nyerang! Entah apa kerjaannya, pokoknya di Facebook, Twitter, sampai TikTok, dia ada terus, perang komentar."

Fajar Si Tukang Nyinyir

Fenomena si Fajar ini memang menghibur sekaligus bikin geleng kepala. Semua warga jadi serba hati-hati kalau mau bicara soal paslon. Salah-salah, komentar nyerocos si Fajar bisa bikin geger satu desa.

Pak Karto kena sial waktu dia iseng mengkritik janji kampanye pantai buatan. "Mana mungkin desa sawah kayak kita punya pantai?" katanya di grup WA. Belum lima menit, si Fajar muncul dengan capslock dan emot marah.

"PAK KARTO TIDAK MENGHARGAI INOVASI! INI ADALAH PEMIKIRAN KOLONIAL!" tulis si Fajar, lengkap dengan spasi berlebihan dan link artikel abal-abal yang nggak nyambung.

"Orang kayak Fajar ini pasti dibayar, ya?" tanya Bu Nanik.

Pak Darno menduga hal yang sama. "Iya, Bu. Kalau nggak, kok dia semangat banget bela paslon sampai nggak tidur. Padahal, sama kayak kita, pulungnya juga belum pulang!"

Dramanya Belum Selesai

Fenomena Pulung dan Fajar adalah cermin kecil Pilkada di negeri ini. Saat demokrasi mestinya jadi ajang gagasan dan diskusi, malah berubah jadi drama begadang dan perang komentar.

Warga Desa Sukabohong hanya bisa menunggu. Apakah pulung akhirnya pulang? Apakah si Fajar bisa istirahat? Yang pasti, lima tahun lagi, kisah seperti ini akan terulang. Karena di negeri ini, Pilkada bukan cuma soal memilih pemimpin, tapi juga pesta rakyat penuh komedi satir yang tak ada habisnya. 😄

Pulungnya Belum Pulang, Fajar Makin Nyerang

Warga Desa Sukabohong mulai frustasi. Sudah tiga minggu berlalu, pilkada selesai, suara dihitung, tapi pulung tetap nihil. Pak Karto yang tadinya semangat begadang kini lebih mirip zombie kampung, mata panda makin tebal, langkah makin gontai.

“Ini kayak nunggu mantan balik, Bu. Pulungnya janji mau datang, tapi cuma PHP,” keluh Pak Karto ke Bu Lastri yang sedang goreng pisang.

Bu Lastri ngakak. “Pak, mantan balik aja bisa-bisa bawa utang! Pulung kan minimal bawa amplop!”

Fenomena Lima Tahunan: Fajar Masih Aktif

Sementara warga sibuk menunggu pulung, si Fajar makin menjadi-jadi. Kalau biasanya dia cuma nyerang di grup WA desa, kini dia muncul di lapangan dengan strategi baru: door-to-door.

Pak Darno yang sedang santai di beranda rumahnya, tiba-tiba didatangi Fajar. “Pak, kenapa tadi di grup bilang pantai buatan itu nggak mungkin? Anda tidak cinta pembangunan, ya?” tanya Fajar dengan nada investigatif.

Pak Darno, yang kaget tapi tetap santai, menjawab, “Ya kalau pantai buatan itu jadi, saya mau buka usaha ojek perahu. Tapi kali belakang rumah saya itu kering, Mas. Jadi realistis aja.”

Fajar mendengus, “Begini-begini nih yang bikin bangsa kita nggak maju. Kurang optimis! Pikirannya pesimis terus.”

Pak Darno langsung menimpali, “Eh, optimis itu penting, Mas. Tapi, kalau pasir putihnya diambil dari mimpi, jet ski-nya dari rental di TikTok, ya kita ini masuk kategori halu, bukan optimis!”

Kampanye Terakhir: Pulung Palsu

Kegelisahan soal pulung mencapai puncaknya ketika berita menyebar bahwa tim sukses salah satu paslon diam-diam membagi “pulung palsu”. Isinya ternyata cuma selebaran janji-janji kosong.

Bu Nanik, yang sempat menerima selebaran itu, melaporkan ke grup arisan. “Bayangin aja, isinya cuma tulisan: Terima Kasih Telah Mendukung! Tunggu Proyek Kami di Desa Ini.

Pak Udin, yang biasanya pendiam, langsung berkomentar, “Berarti bener, ya. Mereka ini menganut konsep pembangunan versi tabungan akhirat. Janji sekarang, realisasi nanti… di alam kubur!”

Pemilu Rasa Drama Komedi

Ketegangan sedikit mereda ketika hasil pemilu diumumkan. Tapi bukannya selesai, malah muncul tontonan baru: para pendukung paslon kalah mulai menyusun skenario konspirasi.

“Pasti ada kecurangan! Suara kita dikorupsi,” teriak salah satu pendukung fanatik di balai desa.

Bu Lastri yang mendengar, nyeletuk pelan ke Pak Darno, “Kalau suara itu bisa dikorupsi, kok suara kentut suamiku nggak pernah bisa disensor?!”

Pak Darno nyengir lebar. “Mungkin karena suara kentut itu paling jujur, Bu. Gak bisa disogok sama pulung.”

Fajar, Pulung, dan Harapan Baru

Meski banyak yang mengeluh soal drama pilkada, warga Desa Sukabohong tetap optimis. Mereka sadar, lima tahun lagi fenomena ini pasti akan terulang. Pulung akan kembali dijanjikan, Fajar akan tetap menyerang, dan janji-janji ajaib akan berseliweran lagi.

Tapi Pak Karto punya kesimpulan bijak sambil memandang langit, “Kalau pulung nggak pulang, kalau pantai buatan nggak jadi, kalau Fajar masih ngamuk, ya sudahlah. Yang penting kita tetap tertawa. Soalnya, cuma ketawa yang nggak butuh janji politik.”

Dan begitulah Desa Sukabohong, di mana Pilkada adalah pesta rakyat sekaligus festival komedi satir yang selalu berhasil bikin semua orang geleng-geleng sambil ngakak. 😄

Rabu, 06 November 2024

"Jejak NIK yang Tercatut: Sebuah Perjuangan Menjemput Keadilan di Antara Bayang-Bayang Nama yang Tercederai"

(NIK Yang Di catut)
Rabu, 06 November 2024, hari ini langit tak secerah biasanya, seakan turut merasakan beratnya cerita yang akan datang. Di tengah aktivitas yang melaju perlahan, ponselku tiba-tiba berdering. Sebuah panggilan dari seorang teman lama, seseorang yang kini berjalan seiring bersamaku dalam seleksi administrasi untuk pendaftaran P3K di Kementerian Agama.

Dengan nada suara yang terasa ragu namun sarat kekhawatiran, ia memulai cerita. Rupanya, ia menemukan bahwa NIK-nya masih tercatat sebagai anggota partai politik di laman situs resmi KPU RI. Namanya terpampang jelas, seolah ia masih menjadi bagian dari arus politik yang pernah ia tinggalkan. Dulu, ia memang pernah terdaftar sebagai pengurus partai, namun kini ia telah jauh melangkah ke jalan yang berbeda, menata hidup dan tujuan yang lebih tulus.

Mendengar cerita itu, aku pun turut merasakan keresahannya. Dalam diam, aku berpikir, berusaha menemukan jalan keluarnya. Setelah beberapa saat, dengan suara yang kukuatkan, kusampaikan padanya untuk segera mengurus segala persyaratan yang, aku tahu, pasti tak sederhana. "Ikutilah prosedur, walau panjang dan berliku. Segala yang njlimet itu pasti ada jalannya," kataku mencoba memberi secercah harapan.

Seketika percakapan kami berakhir, aku duduk termenung, merasakan beban yang menguap bersama cerita tadi. Di antara bayang-bayang rasa khawatir yang menyeruak, aku tersenyum, sedikit lega. "Aku tak perlu risau," gumamku dalam hati, meyakinkan diri. "Aku tak pernah terlibat dalam partai politik manapun; jalanku adalah untuk mengabdi tanpa embel-embel yang membelenggu."

Namun, dalam senyap yang tiba-tiba menyergap, benakku melayang pada kenyataan bahwa apa yang terjadi pada temanku bisa menimpa siapa saja, termasuk diriku. Hari ini menjadi pengingat halus, bahwa niat dan ketulusan tak selalu menjauhkan kita dari kesalahpahaman yang tak terduga. Tetap, aku percaya, apapun yang datang, jika hati dan langkah ini tulus, jalan akan terbuka, seiring takdir yang disuratkan Sang Pengatur Alam.

Tak lama berselang setelah percakapan dengan temanku, sebuah lintasan pikiran tiba-tiba menggoda hatiku. "Bagaimana kalau aku juga memeriksa NIK-ku? Bukankah tidak ada salahnya untuk berjaga-jaga?" Dengan perasaan iseng namun sedikit khawatir, aku menghubungi Mas Yadi, seorang teman yang bekerja sebagai PANWASCAM. "Mas, boleh tolong cek NIK-ku? Siapa tahu ada yang menyalahgunakan," pesanku ringan.

Tak sampai lama, ponselku bergetar, dan sebuah pesan dari Mas Yadi masuk. Namun, isi pesan itu bak petir menyambar jiwa. "Nikmu, ternyata, tercatat oleh salah satu parpol baru."

Jantungku seketika berdegup kencang, mataku tertuju pada layar ponsel, membaca berulang kali pesan yang tak kunjung kupahami maknanya. Aku membeku, mencoba menepis kenyataan yang tak kunjung hilang. Partai yang mengatasnamakan diriku ini, tak pernah kudengar namanya, tak pernah kulihat logonya. Warna, simbol, bahkan filosofi yang mereka usung pun sama sekali asing bagiku.

"Ooh, betapa kejamnya dunia!" gumamku dalam hati. Mengapa harus aku, di mana letak salahku? Aku tak pernah menorehkan tinta di atas lembaran janji politik, tak pernah menyandarkan hidup pada ormas berwarna tertentu. Namun kini, namaku terhimpit di antara yang tak pernah kujejakkan kaki. Aku terjebak dalam catatan yang bukan milikku, menanggung beban dari kesalahan yang tak pernah kubuat.

Apakah harus aku terjatuh karena permainan dunia yang begitu kejam? Di hadapan kenyataan yang getir ini, aku terpekur, seolah disergap takdir yang tak pernah kupilih.

Aku masih terpaku, merenungi getirnya kenyataan yang baru saja menghantam. Dunia terasa berputar pelan, namun membawa kesadaran pahit bahwa nama baik dan ketulusanku telah dicatut oleh tangan-tangan yang tak bertanggung jawab. Di satu sisi, muncul keinginan untuk berontak, untuk mempertanyakan mengapa aku harus terjebak dalam belenggu yang tak pernah kubuat. Namun di sisi lain, rasa lelah membayangi, seolah-olah aku hanya debu kecil di pusaran dunia yang tak kenal belas kasih.

Sejenak, aku menarik napas dalam, mencoba meredam segala emosi yang menggelegak di dada. "Apakah harus aku tunduk pada tipu daya ini? Apakah aku harus menerima takdir yang menyakitkan ini tanpa daya?" Pertanyaan itu mengendap dalam benak, memaksaku menimbang pilihan antara menerima atau melawan.

Namun, dari dasar hati yang terdalam, aku tahu bahwa ketidakadilan ini tak boleh dibiarkan begitu saja. Nama baik adalah warisan berharga, cerminan kehormatan yang kubangun dengan ketulusan dan pengabdian. Dengan tekad yang mulai kukumpulkan, kubulatkan hati untuk memperjuangkan kebenaran ini. Jalan mungkin akan panjang, penuh liku-liku birokrasi yang melelahkan. Tapi, aku yakin Allah menyaksikan dan takkan meninggalkan hamba-Nya yang berjuang atas kebenaran.

Dalam hening saat itu, aku menengadahkan tangan, menyerahkan segala yang terjadi pada Sang Pemilik Keadilan. "Ya Allah, berikanlah aku kekuatan untuk meluruskan segalanya. Jadikanlah ujian ini sebagai jalan bagiku untuk semakin mendekat pada-Mu dan menjaga amanah hidup yang Kau titipkan," doaku bergetar, menggema dalam jiwa yang perlahan mulai kukuh kembali.

Dan saat itu, meski kenyataan masih terasa berat, aku merasa ada cahaya yang menuntunku. Sebuah keyakinan bahwa aku tak sendiri dalam menghadapi semua ini, bahwa Tuhan selalu hadir dalam setiap langkah pencarian kebenaran. Maka, dengan segala kerendahan hati dan keteguhan, kutetapkan niat untuk memperjuangkan nama dan amanah yang telah lama kujaga.

Di saat selanjutnya, masih dengan semangat yang terjaga meski tak terhindar dari kepenatan, aku memutuskan untuk menghubungi beberapa sahabat terpercaya. Mas Agus, seorang PPK di kecamatan; Ndan Wahyudi, sahabat yang kerap menopang keluh kesahku; Gus Zainuddin, yang selalu penuh nasihat bijak; dan Mas Imam Sholikin, seorang yang selalu siap sedia dengan tangan terbuka. Setiap nama yang kukontak, kutuangkan keresahan dan harapan akan jawaban, seolah mereka adalah cahaya kecil yang akan membantuku menyusuri jalan keluar dari kegelapan yang tiba-tiba datang ini.

Dari saran mereka, ada satu solusi yang disepakati: melaporkan pencatutan NIK ini secara daring melalui situs KPU. Aku pun bergegas melakukannya, berharap bisa menyelesaikan urusan ini secepat mungkin, agar kelak tak ada ganjalan yang akan menghentikan langkahku menuju tujuan yang telah kutetapkan. Namun, kenyataan berbicara lain. Proses di laman KPU tak secepat dan semudah aku mengunggah keluh kesah di media sosial. Berulang kali aku coba, namun sistem tampaknya tak mengizinkanku untuk menyelesaikan laporan itu. Di sela-sela usaha yang tak kunjung berhasil, sempat terlintas rasa putus asa, namun aku kembali pada tekad awal: aku akan memperjuangkan nama baik ini, seberapa pun sulitnya.

Lalu, seorang teman yang peduli memberikan nomor kontak pengurus partai tersebut. Dengan ragu namun berbalut tekad, aku menghubunginya. Kupaparkan keluh kesah, kekecewaan, dan kebingungan. Kuharap, dari kata-kata yang kusampaikan, ia bisa melihat beratnya beban yang kualami karena kesalahan yang bukan milikku. Pengurus partai itu mendengarkan dengan penuh simpati, lalu dengan nada yang tulus, ia meminta maaf atas perilaku tidak sopan dari anggotanya yang bertindak tanpa pertimbangan. “Kami akan mengeluarkan surat pernyataan resmi bahwa Anda bukan bagian dari partai kami,” ujarnya, memberikan sedikit kelegaan yang langsung kurasakan.

Meski begitu, langkah belum sepenuhnya selesai. Sambil menunggu kabar dari pengurus partai, aku terus mencoba melaporkan pencatutan ini di laman KPU. Pagi berganti siang, siang pun perlahan menuju senja, dan hingga larut malam, upayaku tak juga berbuah hasil. Setiap kali mencoba, kegagalan seolah telah menanti di ujung proses.

Di tengah segala kebuntuan ini, teman-temanku tak lelah memberikan dukungan dan mencoba mencari solusi alternatif, entah itu melalui pihak berwenang atau jalur administratif lain. Namun hingga detik ini, jalan keluar tampak masih tersembunyi, membuatku merasa terombang-ambing di antara harapan dan keraguan. Meski begitu, aku bertekad untuk terus melangkah, berjuang tanpa menyerah, hingga nama baik ini kembali bersih seperti sedia kala.

(Bersambung)