Siang itu, sekitar pukul 13.30 WIB, saya bersama beberapa rekan dari Kantor Urusan Agama (KUA) sedang menghadiri undangan di rumah Pak Udin, salah satu teman kerja kami, yang berada di Dusun Bandung-Bandung, Kalangan. Suasana desa terasa teduh selepas waktu Zuhur. Kami datang untuk memenuhi undangan tasyakuran keluarga besar Pak Udin yang saat itu tengah bersyukur atas keberangkatan mertuanya yang akan menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci.
Bersamaan dengan acara tasyakuran tersebut, masyarakat setempat juga mengadakan tradisi “Nggemblang”, yang dalam istilah lain dapat dipahami sebagai sedekah bumi atau ungkapan rasa syukur atas nikmat dan keberkahan yang telah Allah limpahkan. Acara berlangsung sederhana namun penuh keakraban.
Selain para pegawai KUA, hadir pula rombongan guru-guru MI yang merupakan rekan kerja istri Pak Udin. Halaman rumah yang cukup luas itu dipenuhi canda, tawa, dan obrolan ringan. Sebagaimana lazimnya acara Nggemblang, porsi terbesar kegiatan lebih banyak diisi dengan makan bersama dan berbincang santai mengenai berbagai hal keseharian; mulai dari pekerjaan, keluarga, hingga perkembangan masyarakat sekitar.
Di tengah riuh rendah percakapan dan suasana kekeluargaan yang hangat itu, tiba-tiba telepon genggam saya berdering. Nama yang muncul di layar membuat saya seketika terdiam dan menatap beberapa saat dengan rasa tak percaya.
Yang menelepon adalah seorang kiai sepuh yang sangat saya hormati, sosok alim yang namanya dikenal luas di kalangan masyarakat Bojonegoro bagian barat, khususnya Kecamatan Malo. Beliau adalah Kiai Hasyim Rosyidi, atau yang akrab kami panggil Mbah Hasyim.
Beberapa waktu terakhir, saya mendengar kabar bahwa beliau sedang mendapatkan ujian sakit. Karena itulah, ketika melihat namanya muncul di layar telepon, hati saya langsung dipenuhi rasa haru dan bahagia.
Saya segera mengangkat telepon tersebut.
“Assalamu’alaikum...”
Suara serak namun tetap penuh kewibawaan terdengar dari seberang sana. Meski kondisi kesehatan beliau sedang diuji, aura keteguhan seorang ulama tetap terasa jelas dari setiap kata yang diucapkan.
“Wa’alaikumussalam warahmah...” jawab saya spontan dengan nada sedikit gugup bercampur gembira.
Mendengar langsung suara beliau rasanya seperti mendapatkan energi baru. Setelah itu saya melanjutkan dengan penuh hormat,
“Injeh Mbah, wonten dawuh?”
(Iya Mbah, ada perintah apa?)
Dengan singkat beliau menjawab,
“Aku ape neng Masjid An-Nahdla.”
(Aku mau ke Masjid An-Nahdla.)
Saya yang belum memahami maksud lebih lanjut segera menjawab,
“Oooh... Injeh Mbah, sumonggo.”
(Oooh iya Mbah, silakan.)
Belum sempat saya berkata banyak, Mbah Hasyim kembali melanjutkan dengan nada khas beliau yang tegas namun penuh kasih sayang.
“Maksudte awakmu ya merapat mrene.”
(Maksudnya dirimu juga harus ke sini.)
Seketika saya memahami maksud beliau. Ternyata bukan sekadar memberi kabar bahwa beliau akan ke Masjid An-Nahdla, tetapi juga menghendaki saya untuk hadir dan menemuinya di sana.
Tanpa berpikir panjang saya langsung menjawab,
“Ooooh... Injeh Mbah, siap.”
Di saat itu pula hati saya bergetar. Bukan karena merasa mendapat perintah dari seorang ulama besar, tetapi karena saya merasakan sebuah kehormatan yang tidak setiap hari datang. Di tengah kondisi kesehatan beliau yang sedang menurun, ternyata Mbah Hasyim masih berkenan mengingat dan memanggil saya untuk hadir menemuinya.
Saya pun berpamitan kepada rekan-rekan yang masih menikmati suasana Nggemblang di rumah Pak Udin. Dalam perjalanan menuju Masjid An-Nahdla, pikiran saya dipenuhi berbagai kenangan tentang nasihat, wejangan, dan keteladanan Mbah Hasyim yang selama ini menjadi pelita bagi banyak orang.
Perjalanan menuju masjid sore itu terasa berbeda. Ada rasa rindu, hormat, sekaligus harapan agar Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan dan keberkahan umur kepada beliau. Sebab bagi masyarakat, keberadaan seorang ulama bukan hanya sebagai guru agama, melainkan juga sebagai penuntun hati dan penjaga nilai-nilai kebaikan di tengah kehidupan.
Panggilan sederhana melalui telepon siang itu akhirnya menjadi sebuah momen yang sangat berkesan dalam hidup saya. Sebuah panggilan yang bukan sekadar ajakan untuk datang ke masjid, melainkan pengingat bahwa hubungan murid dengan guru, santri dengan kiai, tidak hanya terjalin melalui majelis ilmu, tetapi juga melalui rasa hormat, mahabbah, dan keberkahan doa yang mengalir di antara keduanya.
Dan siang itu, saya merasa menjadi orang yang sangat beruntung karena mendapat kesempatan untuk kembali kepanggih Mbah Hasyim di Masjid An-Nahdla. Sebuah pertemuan sederhana yang nilainya jauh melampaui kata-kata.
Sekitar satu jam kemudian, acara di rumah Pak Udin pun berakhir. Para tamu mulai berpamitan satu per satu. Saya bersama rombongan dari KUA kemudian kembali menuju kantor. Sepanjang perjalanan, pikiran saya sesekali melayang pada panggilan telepon dari Mbah Hasyim tadi siang. Ada rasa penasaran sekaligus bahagia karena sebentar lagi saya akan bertemu langsung dengan beliau.
Sesampainya di KUA, hari sudah beranjak sore. Aktivitas kantor mulai mereda. Sebagian pegawai menyelesaikan pekerjaan terakhir sebelum pulang. Setelah melakukan absensi pulang dan menuntaskan beberapa urusan ringan, saya berpamitan kepada Bapak Kepala KUA serta teman-teman kantor.
“Assalamu’alaikum, saya izin dulu,” ucap saya singkat.
“Wa’alaikumussalam, monggo,” jawab mereka.
Begitu keluar dari kantor, saya tidak langsung pulang ke rumah. Amanah dari Mbah Hasyim yang disampaikan melalui telepon siang tadi masih terngiang jelas di telinga. Saya pun segera mengarahkan kendaraan menuju Masjid An-Nahdla Sumberjo.
Sore itu suasana jalanan tidak terlalu ramai. Langit mulai berubah warna, perlahan meninggalkan terik siang menuju kesejukan petang. Di sepanjang perjalanan, hati saya dipenuhi berbagai perasaan. Saya teringat kondisi kesehatan Mbah Hasyim yang dalam setahun terakhir sedang mendapat ujian sakit. Karena itulah pertemuan ini terasa begitu berharga.
Sesampainya di halaman Masjid An-Nahdla, suasana tampak tenang. Beberapa jamaah terlihat lalu-lalang, sementara sebagian lainnya sedang duduk santai di serambi masjid. Saya memarkir kendaraan lalu melangkah masuk dengan perasaan penuh hormat.
Belum jauh melangkah, pandangan saya langsung tertuju pada sosok yang saya cari.
Di salah satu bagian serambi masjid, tampak Mbah Hasyim duduk bersandar dengan tenang. Wajah beliau terlihat lebih kurus dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, namun pancaran kewibawaan dan keteduhan seorang ulama masih sangat jelas terlihat. Sorot matanya tetap tajam, sementara senyumnya tetap menghadirkan rasa tenteram bagi siapa saja yang memandang.
Saya segera menghampiri beliau.
"Sugeng sonten, Mbah..." ucap saya sembari menundukkan badan dan mencium tangan beliau penuh takzim.
Mbah Hasyim menyambut dengan senyum yang hangat.
"Nggih, alhamdulillah awakmu teko," kata beliau pelan.
(Iya, alhamdulillah kamu datang.)
Mendengar kalimat sederhana itu, hati saya terasa hangat. Rasanya seperti seorang anak yang disambut oleh orang tuanya setelah lama tidak bertemu.
Saya kemudian duduk di samping beliau. Kami berbincang santai. Sesekali beliau bertanya tentang keadaan kantor KUA, kegiatan masyarakat, kondisi para kiai dan tokoh agama yang beliau kenal, serta perkembangan dakwah di wilayah Margomulyo dan sekitarnya.
Meski kondisi fisik beliau tidak sekuat dahulu, saya melihat semangat beliau dalam memikirkan umat tidak pernah berkurang sedikit pun. Yang keluar dari lisan beliau bukan keluhan tentang sakit yang diderita, melainkan pertanyaan-pertanyaan tentang kemaslahatan masyarakat dan perkembangan perjuangan agama.
Saat itulah saya kembali menyadari bahwa para ulama sejati memang berbeda. Ketika kebanyakan orang sibuk memikirkan dirinya sendiri saat sakit, mereka justru tetap memikirkan umat dan masa depan dakwah.
Di sela-sela percakapan, Mbah Hasyim beberapa kali menyampaikan nasihat yang sederhana tetapi sangat dalam maknanya. Beliau mengingatkan pentingnya menjaga keikhlasan dalam berkhidmah, tidak mudah lelah melayani masyarakat, serta terus merawat hubungan baik dengan para ulama dan sesama pejuang agama.
Petang semakin larut. Cahaya matahari yang masuk dari sela-sela bangunan masjid mulai memudar. Namun saya merasa waktu berjalan begitu cepat. Setiap kalimat yang keluar dari lisan beliau terasa seperti mutiara hikmah yang sayang untuk dilewatkan.
Dalam hati saya bersyukur kepada Allah SWT. Andaikan siang tadi saya mengabaikan panggilan telepon beliau, tentu saya akan kehilangan kesempatan berharga ini. Kesempatan untuk duduk bersimpuh di hadapan seorang ulama, mendengarkan nasihatnya secara langsung, dan merasakan keberkahan majelis yang sederhana namun penuh makna.
Sore itu saya memahami satu hal: terkadang Allah menghadirkan panggilan-panggilan kecil dalam hidup kita, tetapi di baliknya tersimpan pelajaran yang besar. Dan panggilan Mbah Hasyim menuju Masjid An-Nahdla hari itu menjadi salah satu momen yang akan selalu saya kenang sepanjang hidup. Sebuah pertemuan yang mengajarkan tentang adab kepada guru, pentingnya menyambung silaturahim, serta keberkahan yang Allah titipkan melalui para ulama-Nya.
Sesampainya di Masjid An-Nahdla, saya melihat halaman masjid sudah tampak cukup lengang. Sinar matahari sore mulai condong ke barat, menyisakan cahaya keemasan yang menerpa halaman masjid. Dari kejauhan, mata saya langsung menangkap sosok yang sangat saya hormati itu.
Mbah Hasyim ternyata sudah berada di halaman masjid.
Beliau berdiri didampingi beberapa orang yang menemaninya. Begitu melihat saya datang, beliau langsung mengangkat tangan dan melambaikannya ke arah saya. Dari kejauhan terdengar suara beliau yang khas, pelan namun jelas.
"Assalamu'alaikum..."
Sapaan itu terasa begitu hangat.
Saya pun segera mempercepat langkah sambil menjawab,
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
Semakin dekat, semakin jelas terlihat wajah beliau yang teduh. Meski fisiknya tampak tidak sekuat dulu akibat ujian sakit yang beliau jalani, tetapi pancaran semangat dan kewibawaan seorang alim tetap memancar kuat.
Kami pun bersalaman.
Saya mencium tangan beliau dengan penuh takzim, sementara beliau menggenggam tangan saya erat seolah menyampaikan kasih sayang seorang guru kepada muridnya.
"Piye kabare?" tanya beliau.
"Alhamdulillah sae, Mbah. Mbah piyambak kulo ndedonga tansah pinaringan sehat," jawab saya.
Beliau tersenyum.
Kami kemudian duduk bersama di serambi masjid. Percakapan mengalir begitu saja. Saling bertanya kabar, bertukar cerita, dan mengenang berbagai peristiwa yang pernah kami lalui.
Yang paling membekas bagi saya sore itu adalah betapa banyak doa yang beliau panjatkan untuk saya.
Beberapa kali beliau mengangkat tangan sambil mengucapkan doa-doa yang tulus. Beliau mendoakan kesehatan, keselamatan, kemudahan urusan, keberkahan keluarga, serta keberhasilan dalam menjalankan amanah yang sedang saya emban.
Saya hanya bisa mengamini dengan hati yang bergetar.
Bagi sebagian orang, doa mungkin hanya rangkaian kata-kata. Namun bagi saya, doa seorang ulama yang saleh adalah hadiah yang nilainya tak dapat diukur dengan apa pun.
Sebab saya tahu, Mbah Hasyim bukan hanya seorang kiai yang saya hormati. Beliau adalah salah satu sosok yang pernah menjadi penguat jiwa saya pada masa-masa yang cukup berat.
Pikiran saya kemudian melayang pada sekitar tahun 2024.
Saat itu saya sedang menghadapi sebuah persoalan yang cukup menguras pikiran dan perasaan. Sebuah masalah yang pada hakikatnya mungkin tidak layak disebut masalah. Namun begitulah kehidupan. Terkadang sesuatu yang kecil dapat terasa begitu besar ketika hati sedang lelah. Terkadang sesuatu yang sederhana dapat menjadi begitu rumit karena penilaian manusia.
Pada masa itu, saya sempat merasa kecewa, bingung, bahkan mempertanyakan banyak hal. Ada saat-saat di mana saya merasa berjalan sendirian. Ada masa ketika penjelasan yang benar tidak selalu diterima dengan benar, dan niat baik tidak selalu dipahami sebagaimana mestinya.
Namun di tengah keadaan itu, Allah menghadirkan beberapa orang yang menjadi penopang semangat. Salah satunya adalah Mbah Hasyim.
Beliau tidak banyak memberikan ceramah panjang. Tidak pula memberikan teori-teori yang rumit.
Dengan kebijaksanaan seorang ulama yang telah kenyang pengalaman hidup, beliau hanya berkata dengan kalimat-kalimat sederhana yang hingga hari ini masih saya ingat.
Beliau mengingatkan bahwa tidak semua yang kita hadapi harus dilawan. Tidak semua yang dibicarakan orang harus dijawab. Dan tidak semua ujian harus membuat kita berhenti melangkah.
"Sing penting awakmu bener lan istiqamah. Wong urip kuwi ora bakal uwal saka omongane uwong."
(Yang penting kamu benar dan istiqamah. Orang hidup itu tidak akan pernah lepas dari omongan manusia.)
Nasihat itu sederhana.
Tetapi justru kesederhanaan itulah yang menembus hati saya.
Beliau mengajarkan bahwa kehormatan seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya pujian manusia, melainkan oleh sejauh mana ia tetap teguh berada di jalan yang benar ketika diuji oleh keadaan.
Karena itulah, ketika sore itu saya duduk kembali di samping beliau di Masjid An-Nahdla, saya merasa sedang bertemu bukan hanya dengan seorang kiai, tetapi juga dengan seorang guru kehidupan.
Seorang guru yang pernah hadir di saat saya membutuhkan penguatan.
Seorang guru yang dengan doa dan nasihatnya membantu saya melihat masalah secara lebih jernih.
Dan kini, di tengah kondisi beliau yang sedang diuji sakit, justru beliau masih menyempatkan diri memanggil, menyambut, dan mendoakan saya.
Saat itulah saya semakin memahami bahwa kemuliaan seorang ulama tidak hanya tampak dari ilmunya, tetapi juga dari keluasan hatinya. Meskipun beliau sendiri sedang menanggung ujian, perhatian dan kasih sayangnya kepada orang lain tidak pernah berkurang.
Sore itu di halaman Masjid An-Nahdla, saya merasakan kembali pelajaran yang selama ini sering terlupakan: bahwa kekuatan terbesar dalam hidup bukanlah jabatan, harta, ataupun kedudukan, melainkan keberadaan guru-guru saleh yang dengan tulus mendoakan kita dalam diam.
Dan saya bersyukur, Allah masih mempertemukan saya dengan salah satu di antaranya: Mbah Hasyim Rosyidi. Sebuah pertemuan yang sederhana, namun meninggalkan jejak yang sangat dalam di relung hati saya.
Ngilu rasanya jika mengingat masa-masa itu.
Saat hidup terasa berada pada titik yang paling berat. Saat pikiran dipenuhi berbagai pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban. Saat langkah terasa tertahan oleh keadaan yang seolah datang bertubi-tubi. Bahkan terkadang saya merasa seakan semua jalan keluar telah tertutup rapat di hadapan saya.
Di masa seperti itulah seseorang sering diuji, bukan hanya oleh persoalan yang dihadapi, tetapi juga oleh dirinya sendiri. Antara yakin dan ragu. Antara kuat dan lemah. Antara pasrah dan putus asa. Semuanya bercampur menjadi satu warna yang sulit dibedakan.
Pada saat itulah Allah menghadirkan Mbah Hasyim.
Beliau datang bukan membawa solusi-instans, bukan pula membawa kekuatan duniawi yang mampu mengubah keadaan dalam sekejap. Namun beliau membawa sesuatu yang jauh lebih berharga: kabar gembira tentang rahmat Allah.
Beliau mengingatkan saya bahwa rahmat Allah tidak pernah berhenti menyapa hamba-hamba-Nya.
Bahwa sesulit apa pun keadaan, pintu pertolongan Allah tidak pernah benar-benar tertutup.
Bahwa setiap kesempitan selalu menyimpan keluasan yang belum tampak.
Dan bahwa setiap ujian sesungguhnya adalah cara Allah mendidik hamba-Nya agar naik ke derajat yang lebih baik.
Sering kali yang dibutuhkan seseorang bukanlah banyaknya nasihat, melainkan hadirnya seseorang yang mampu membuatnya kembali percaya kepada kasih sayang Allah. Dan bagi saya, pada masa itu, Mbah Hasyim adalah salah satu sosok yang Allah kirimkan untuk tujuan tersebut.
Ketika warna kehidupan terasa kabur, ketika batas antara pasrah dan putus asa seakan tidak lagi terlihat jelas, Mbah Hasyim hadir memberi warna yang nyata.
Beliau mengajarkan bahwa pasrah bukan berarti menyerah.
Beliau mengingatkan bahwa sabar bukan berarti diam tanpa usaha.
Beliau meneguhkan bahwa setiap orang yang berjuang di jalan khidmah pasti akan diuji sesuai kadar amanah yang dipikulnya.
Nasihat-nasihat beliau mungkin terdengar sederhana. Namun dari lisan seorang alim yang mengamalkan ilmunya, kata-kata sederhana itu memiliki daya hidup yang luar biasa. Ia mampu menguatkan hati yang rapuh, menenangkan pikiran yang kusut, dan menghidupkan kembali harapan yang hampir padam.
Karena itulah, ketika sore itu saya kembali duduk bersama beliau di Masjid An-Nahdla, yang saya lihat bukan hanya seorang kiai sepuh yang sedang diuji sakit. Saya melihat seorang guru yang pernah menjadi sebab Allah menguatkan hati saya.
Saya melihat seorang mursyid kehidupan yang dengan kelembutan tutur katanya telah membantu saya melewati fase-fase yang tidak mudah.
Dan saya menyadari, mungkin saya tidak akan pernah mampu menghitung satu per satu kebaikan beliau kepada saya. Sebab sebagian besar jasa seorang guru memang tidak tercatat dalam angka dan tulisan. Ia tersimpan dalam perubahan cara berpikir, dalam keteguhan langkah, dan dalam semangat yang kembali tumbuh setelah hampir layu.
Itulah sepintas kisah yang dapat saya ceritakan dari sekian banyak peran Mbah Hasyim dalam mewarnai perjalanan hidup saya.
Beliau bukan hanya memberi nasihat ketika diminta.
Beliau bukan hanya hadir saat keadaan lapang.
Tetapi beliau hadir ketika hati sedang membutuhkan penguat.
Beliau hadir ketika harapan mulai redup.
Beliau hadir membawa pesan bahwa Allah masih ada, rahmat-Nya masih terbuka, dan masa depan masih menyimpan banyak kemungkinan baik yang belum terlihat oleh mata manusia.
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, keberkahan umur, dan kemuliaan kepada Mbah Hasyim Rosyidi. Dan apabila kelak Allah memanggil beliau menghadap-Nya, semoga segala ilmu, nasihat, doa, dan keteladanan yang telah beliau wariskan menjadi amal jariyah yang terus mengalir tanpa putus.
Karena sesungguhnya, orang-orang seperti Mbah Hasyim adalah lentera kehidupan. Mereka tidak selalu berada di depan kita setiap hari, tetapi cahaya yang mereka tinggalkan akan terus menerangi perjalanan banyak orang, bahkan setelah mereka melangkah jauh meninggalkan dunia ini.
اللَّهُمَّ احْفَظْ مَشَايِخَنَا وَعُلَمَاءَنَا، وَبَارِكْ فِي أَعْمَارِهِمْ وَعِلْمِهِمْ وَدَعْوَتِهِمْ. آمِيْن.
"Ya Allah, jagalah para guru dan ulama kami, limpahkan keberkahan pada umur, ilmu, dan dakwah mereka. Amin."
Hari itu, Mbah Hasyim kembali menyapa saya dengan kehangatan yang sama seperti dulu. Setelah kami cukup lama berbincang, beliau kembali menengadahkan tangan dan memanjatkan doa-doa terbaik untuk saya. Salah satu doa yang paling membekas di hati saya adalah ketika beliau mendoakan agar saya segera diberi rezeki memiliki mobil sebagai sarana untuk memperlancar kegiatan dakwah dan khidmah yang saya jalani.
Saya hanya terdiam.
Mata saya mulai berkaca-kaca.
Bukan semata karena doa tentang kendaraan itu, tetapi karena saya merasakan ketulusan yang begitu dalam dari seorang guru kepada muridnya. Di tengah kondisi beliau yang belum sepenuhnya sehat, Mbah Hasyim masih memikirkan kemanfaatan hidup orang lain. Beliau masih memikirkan bagaimana saya bisa lebih mudah menjalankan amanah, lebih luas menjangkau masyarakat, dan lebih lancar dalam berdakwah.
Hati saya benar-benar terharu.
Saya membatin, betapa luas hati seorang ulama. Bahkan ketika dirinya sendiri sedang diuji sakit, pikirannya tetap dipenuhi harapan-harapan baik untuk orang lain.
Waktu terasa berjalan cepat. Tanpa terasa, langit semakin redup dan suasana petang mulai menyelimuti halaman Masjid An-Nahdla. Kami masih bercengkerama tentang berbagai hal; tentang kehidupan, perjuangan, dan pentingnya menjaga keikhlasan dalam berkhidmah.
Tiba-tiba Mbah Hasyim memandang ke arah langit lalu menoleh kepada saya.
“Ndang mantuk, wes ape magrib.”
(Segera pulang, sebentar lagi Magrib.)
Kalimat itu sederhana, tetapi terdengar begitu penuh perhatian. Seolah seorang ayah yang mengingatkan anaknya agar segera kembali ke rumah sebelum malam tiba.
Saya pun mengangguk pelan.
“Injeh Mbah,” jawab saya.
Dengan hati yang sebenarnya masih berat untuk berpisah, saya kembali mencium tangan beliau dan berpamitan. Ada perasaan enggan meninggalkan majelis sederhana itu, karena setiap detik bersama beliau terasa begitu berharga. Namun saya juga memahami bahwa nasihat beliau untuk segera pulang adalah bentuk kasih sayang dan perhatian yang tulus.
Sebelum saya melangkah pergi, Mbah Hasyim kembali mengangkat tangan dan mengucapkan doa singkat untuk keselamatan perjalanan saya. Saya mengamini dengan sepenuh hati.
Saya pun berjalan meninggalkan halaman masjid. Dari belakang, saya masih sempat menoleh sekali lagi. Sosok beliau tampak duduk tenang di serambi masjid, diterangi cahaya petang yang mulai meredup. Pemandangan itu terpatri kuat dalam ingatan saya.
Sepanjang perjalanan pulang, hati saya dipenuhi rasa syukur.
Saya bersyukur karena Allah masih mempertemukan saya dengan guru yang saleh.
Saya bersyukur karena masih dapat mendengar nasihat dan doa beliau secara langsung.
Dan saya bersyukur karena melalui pertemuan sederhana sore itu, saya kembali diingatkan bahwa kekuatan hidup sering kali datang dari tempat yang tidak kita sangka: dari doa tulus seorang ulama, dari perhatian seorang guru, dan dari kasih sayang yang Allah titipkan melalui orang-orang saleh di sekitar kita.
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga Mbah Hasyim Rosyidi, melimpahkan kesehatan dan keberkahan kepada beliau, serta menjadikan setiap doa dan nasihatnya sebagai cahaya yang terus menerangi langkah kami dalam menjalani kehidupan dan khidmah di jalan-Nya. Aamiin.


















