Kamis, 24 Juli 2025

Syahdu Pagi dan Sebotol BBM: Kisah di Tengah Jalan Menuju Tanjung Harapan

 
Kang Lamin datang memberikan pertolongan BBM

Margomulyo - 24 Juli 2025, Pagi itu seperti biasa, rutinitas menyambut hari dimulai dengan senyum istri tercinta yang dengan cekatan sudah menyiapkan semua perlengkapan kerjaku. Dari tas, HP, Dompet hingga bekal semangat, semuanya terasa lengkap. Setelah memastikan semuanya siap, aku pun berangkat meskipun, yah… agak sedikit telat. Jam sudah menunjukkan pukul 06.45 ketika akhirnya aku melaju dari rumah.

Biasanya, di tengah perjalanan aku sempatkan mampir isi BBM di warung langganan. Tapi kali ini karena merasa sudah agak kesiangan, aku tancap gas sambil berkata dalam hati, “Ah… nanti saja isinya, masih cukup lah.”

Di sepanjang jalan, udara pagi begitu segar, cahaya mentari menembus sela-sela pepohonan, dan suara alam berpadu merdu dengan lirih sholawat Nabi yang ku lantunkan pelan dari balik helm. Rasanya damai… syahdu… seperti pagi di film-film religi.

Hutan yang kulalui pun tampak menawan. Pohon-pohon hasil penebangan masa lalu mulai menumbuhkan harapan baru, menghijau lagi di sisi kanan kiri jalan. Tapi sayangnya, ketenangan itu tak berlangsung lama…

“Det… det… det…” suara motorku tiba-tiba menjadi aneh.

Gas kuputar, tapi motorku melambat. Dan akhirnya… terhenti.

“Yaaah…” desahku pasrah.

Ternyata benar. Aku kehabisan BBM di tengah jalan. Dan lebih dramatis lagi, lokasi tepatnya: sebelah barat pertigaan menuju Dusun Matar. Di sana cuma ada sunyi, pohon, dan burung-burung yang tak bisa kupanggil minta bantuan.

Kepanikan kecil pun muncul. Aku coba menghubungi beberapa teman. Pertama Pak Paniran, tapi sinyalnya kalah sama daun jati. Kemudian aku coba telepon Kang Lamin yang rumahnya tak terlalu jauh dari lokasi.

Alhamdulillah, sinyal berpihak padaku. Telepon tersambung.

Tak butuh waktu lama, dari kejauhan muncul sosok penyelamat pagi itu: Kang Lamin. Ia datang membawa sebotol BBM seperti pahlawan dalam film laga, bedanya, alih-alih pedang, yang dibawanya adalah botol ijo transparan berisi bahan bakar penuh harapan!

Kami pun tertawa, terutama aku yang tadi sudah sempat panik, kini malah merasa seperti sedang syuting episode “Petualangan Tak Terduga di Jalan Sepi”.

“Terimakasih Kang Lamin,” ucapku tulus, sambil menyambar botol penuh berkah itu.

Dengan wajah tenang tapi sedikit geli, Kang Lamin menjawab, “Nek wes ngerti telat, ya ojo lali isi bensin disek, Kang…”

Kami pun tertawa bersama di tengah hutan yang perlahan mulai riuh oleh suara motor yang kembali menyala. Alhamdulillah… diriku tertolong.

Pagi yang tadinya nyaris menjadi cerita sedih, berubah menjadi kisah syahdu dengan sentuhan humor, berkat sebotol BBM dan kehadiran Kang Lamin, sahabat sejati di tengah perjalanan hidup yang tak selalu mulus.


Catatan: Kalau besok-besok telat lagi, pastikan isi BBM dulu… atau sekalian ajak istri ikut, biar bisa bantu dorong. 😄

Jumat, 27 Juni 2025

Jejak yang Dibersihkan, Langkah yang Dikuatkan: Kelanjutan Kisah NIK yang Tercatut



Setelah perjuangan panjang yang penuh ketidakpastian, langkahku mulai menapaki jalan terang. Meski pihak pengurus partai tempat namaku tercatut telah berusaha menyelesaikan administrasi, bagiku semua terasa begitu lamban. Sementara hari-hari terus berlalu dengan hati yang tak pernah tenang. Aku tahu mereka sudah mencoba maksimal, tapi sebagai korban, waktu menjadi seperti cambuk bagi kegelisahan batinku.

Puncaknya adalah saat aku memutuskan untuk ikut Mujahadah di malam 10 November 2024, bertempat di Kantor PBNU Pertama, Jalan Bubutan, Surabaya. Dalam suasana yang penuh khidmat itu, kularut dalam lantunan doa bersama orang-orang sholih yang bahkan tak kukenal, namun terasa begitu dekat. Tapi jiwaku bergemuruh. Tangis yang kutahan akhirnya luruh, mengalir bersama doa yang kupanjatkan dalam kesendirian spiritual. Aku pasrah, aku lelah, tapi aku percaya bahwa Allah selalu melihat mereka yang terzalimi.

Selepas acara, aku mencoba kembali menghubungi pengurus partai yang sebelumnya berjanji akan menyelesaikan semuanya malam itu juga. Dan benar saja—tepat pukul 00.00 WIB, dengan tangan gemetar dan hati penuh harap, kubuka laman resmi KPU. Perlahan kuarahkan pandangan ke kolom daftar nama yang sebelumnya menyudutkanku. Dan... namaku sudah tidak ada lagi di sana. Tak bisa kutahan rasa syukur itu. Dalam diam, aku bersujud, menangis—bukan karena sedih, tapi karena Allah benar-benar menolongku di waktu yang paling indah: saat segalanya terasa hampir mustahil.

Pagi harinya, sebuah surat resmi dari partai itu akhirnya kukantongi. Surat pernyataan bahwa aku telah resmi keluar dan tidak pernah mengajukan keanggotaan sebelumnya. Rasa lega menyelimuti seluruh jiwaku. Beban yang selama ini menghimpit akhirnya mulai terangkat satu demi satu.

Dan belum genap sehari sejak surat itu kuterima, kabar baik berikutnya datang menyambut. Bak gayung bersambut, berkas-berkas yang sebelumnya kuunggah ke situs BKN untuk seleksi Tes P3K, akhirnya dinyatakan LOLOS VERIFIKASI. Notifikasi itu muncul begitu sederhana, tapi dampaknya luar biasa: “Anda memenuhi syarat dan berhak mengikuti tahapan seleksi berikutnya.”

Tanpa berpikir panjang, aku langsung pulang dan mencari Ibukku. Di pojok rumah, beliau sedang menata barang-barang lama. Aku hampiri dan menatap wajahnya dengan mata yang mulai berkaca. “Buk... aku lolos verifikasi. Aku bisa ikut tes P3K…”

Ibuku menoleh perlahan, lalu menunduk sembari mengucap, “Alhamdulillah… alhamdulillah, nak…” Hanya itu, namun di pelukannya aku merasa seluruh perjuangan ini mendapatkan restu dari langit.

Lalu aku temui istriku. Saat kusampaikan kabar itu, ia tersenyum penuh haru dan memelukku erat. “Perjuanganmu tidak sia-sia, Mas…” ucapnya. Pelukannya seolah menjadi penguat baru untuk langkah panjang yang menanti.

Tak lupa, kabar baik ini juga kubagikan kepada teman-teman seperjuangan—mereka yang selama ini selalu hadir memberi simpati, mendengarkan, dan menyemangati. Salah satu pesan spesial kukirim kepada Bapak Kepala KUA Margomulyo, yang selama ini menjadi saksi langsung atas tekanan dan kegelisahan yang kualami. Beliau membalas dengan doa dan dukungan tulus.

Hari itu, dunia terasa lebih bersahabat. Segala perjuangan, tangis, dan doa selama ini mulai menemukan titik terang. Perjalananku masih panjang, tapi kali ini, aku tahu: aku melangkah dengan lebih ringan, dengan restu, cinta, dan keberkahan yang membersamai.


Baca Kisah Sebelumnya                                       Bersambung